Al Qur'an

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَ ةَ وَ أْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَ انْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ اصْبِرْ عَلَى مَا أَصَا بَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور [لقمان/17]

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukmaan (31) : 71

SILAHKAN DISEBARKAN

SILAHKAN DIPERBANYAK / DISEBARKAN DENGAN COPY PASTE ASAL SEBUTKAN SUMBERNYA, TERIMA KASIH

Rabu, 02 Februari 2011

TILAWAH AL QUR'AN (Membaca Al Quran dengan Sepenuh Hati) - Bag.2


12. Waktu Terbaik Untuk Membaca Al Qur'an

Dengan tidak mengurangi kebolehan membaca pada setiap waktu, ada baiknya juga disinggung disini kapankah waktu yang paling afdal untuk membaca Al Qur'an. Di dalam kitab Al Adzkar : hal 96-97, Imam Nawawi menyimpulkan : " Yang paling afdhal adalah membaca Al Qur'an di dalam shalat. Di luar shalat yang paling afdhal ialah di malam hari, pada pertengahan yang akhir lebih afdhal lagi. Demikian juga membaca Al Qur'an sesudah shalat Maghrib menjelang shalat Isya sangat disukai. Adapun membaca di waktu siang yang terbaik adalah sesudah shalat Shubuh. Bulan terbaik untuk membaca Al Qur'an adalah bulan Ramadhan. Dan hari yang terbaik adalah hari Jum'at, Senin, dan Kamis, hari Arafah dan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah".


13. Mengkhatamkan Tilawah Al Qur'an

Al Qur'an hendaknya dibaca dari awalnya sampai dengan akhirnya, dari awal surat Al-Fatihah sampai dengan surat An-Naas, dan dibaca dengan tartil itulah yang dinamakan mengkhatamkan Al Qur'an dengan baik. Berapa hari semestinya kita mengkhatamkan Al Qur'an. Marilah kita lihat hadits dibawah ini :

صحيح البخاري - (ج 15 / ص 479/ ح 4666) : حَدَّ ثَنِي إِسْحَاقُ أَخْبَرَ نَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ شَيْبَانَ عَنْ يَحْيَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْ لَى بَنِي زُهْرَ ةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ وَ أَحْسِبُنِي قَالَ سَمِعْتُ أَ نَا مِنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍ و قَالَ قَالَ رَسُو لُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اِقْرَ إِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ قُلْتُ إ ِنِّي أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ فَاقْرَ أْ هُ فِي سَبْعٍ وَ لاَ تَزِدْ عَلَى ذَ لِكَ

Dari Abdullah Ibnu Amru t, bahwa Rasulullah r bersabda : "Bacalah Al Qur'an dalam satu bulan (khatam). Saya (Abdulah) berkata :"Sesungguhnya aku lebih kuat dari itu!". Sehingga Rasulullah r bersabda :"Bacalah dalam tujuh hari dan jangan lebih dari itu".

السنن الكبرى للنسائي - (ج 5 / ص 25/ ح 8066) : أخبرنا محمد بن بشار قال ثنا محمد قال ثنا شعبة عن مغيرة قال سمعت مجاهدا عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال صم من الشهر ثلا ثة أيام قال إني أطيق أكثر من ذلك قال فما زال حتى قال صم يوما و أفطر يوما و قال اقرأ القر آن في شهر فقلت إني أطيق أكثر من ذلك حتى قال اقرأ القر آن في ثلاث

Dari Abdullah Ibnu Amru t, bahwa Rasulullah r bersabda : "Berpuasalah dalam sebulan itu selama 3 hari". Menjawab Atiiq : "Sesungguhnya Atiiq lebih kuat dari itu", sehingga akhirnya Rasulullah r menyuruh berbuka sehari dan saum sehari, kemudian Rasulullah r bersabda : "Bacalah Al Qur'an dalam sebulan sekali khataman". Maka Atiiq menjawab : "Saya lebih kuat dari itu". Sehingga akhirnya Rasulullah r bersabda : "Bacalah Al Qur'an khatam dalam 3 hari".

سنن الترمذي - (ج 10 / ص 203/ ح 2873) و سنن ابن ماجه - (ج 4 / ص 247/ ح 1337) : حَدَّ ثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّ ثَنَا النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ حَدَّ ثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَ ةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ لَمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَ أَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ

Dari Abdullah Ibnu Amru t, bahwa Rasulullah r bersabda :"Tidak akan mengerti orang yang membaca Al Qur'an kurang dari tiga hari"

Dari Hadits diatas jelas sekali waktu tercepat dalam mengkhatamkan Al Qur'an adalah 3 hari, karena bukan hanya membaca saja tetapi meresapi maknanya, juga perlu diperhatikan sehingga Rasulullah r bersabda لَمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَ أَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ (tidak akan paham/mengerti orang yang membaca Al Qur'an kurang dari tiga hari). Berdasarkan hadits tersebut banyak para ulama salaf mengkhatamkan Al Qur'an dengan rentang minimal 30 hari dan maksimal 3 hari. Walaupun mereka semangat sekali dalam membaca Al Qur'an tetapi perintah dari Rasulullah r tetap mereka perhatikan dan mereka jaga.


14. Berdoa Ketika Mengkhatamkan Al Qur'an

سنن الدارمي - (ج 10 / ص 389/ ح 3545) : حَدَّ ثَنَا عَمْرُو بْنُ حَمَّادٍ حَدَّ ثَنَا قَزَعَةُ بْنُ سُوَ يْدٍ عَنْ حُمَيْدٍ الأَعْرَ جِ قَالَ : مَنْ قَرَ أَ الْقُرْآنَ ثُمَّ دَعَا أَمَّنَ عَلَى دُعَائِهِ أَرْ بَعَةُ آلاَفِ مَلَكٍ.

Dari Humaid Al 'Araj t, ia menyatakan : "Barang siapa yang membaca Al Qur'an kemudian ia berdoa, maka empat ribu malaikat turun mengaminkan do'anya".

سنن الدارمي - (ج 10 / ص 392/ ح 3547) : حَدَّ ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّ ثَنَا هَارُونُ عَنْ عَنْبَسَةَ عَنْ لَيْثٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدٍ قَالَ : إِذَ ا وَ افَقَ خَتْمُ الْقُرْآنِ أَوَّلَ اللَّيْلِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى يُصْبِحَ ، وَ إِنْ وَ افَقَ خَتْمُهُ آخِرَ اللَّيْلِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلاَ ئِكَةُ حَتَّى يُمْسِىَ ، فَرُ بَّمَا بَقِىَ عَلَى أَحَدِ نَا الشَّىْءُ فَيُؤَخِّرُهُ حَتَّى يُمْسِىَ أَوْ يُصْبِحَ.

Hadits dari sa'ad r ia berkata : "Apabila mengkhatamkan Al Qur'an itu bertepatan pada awal malam, maka malaikat akan bershalawat untuknya hingga pagi hari, dan bila khatamnya bertepatan dengan akhir malam, malaikat akan bershalawat hingga malam. Kadang-kadang masih ada yang tertinggal sedikit (dari Al Qur'an itu) yang belum kami baca, maka kami tangguhkan dia hingga petang atau pagi".

Demikianlah disyariatkan berdoa dan memohon kepada Allah I ketika selesai membaca Al Qur'an terutama ketika mengkhatamkannya. Oleh karena itu tidak disebutkan apa do'a yang mesti dibacakan itu, maka Imam Nawawi dalam Al Adzkarnya halaman 68 menyatakan :

"Berdoalah mengenai urusan-urusan yang penting dengan kata-kata yang mencakup, terutama menyangkut akhirat, urusan kepentingan kaum muslimin, kebaikan pemerintahan dan pemimpin-pemimpin umat, menegakkan kebenaran dan bersatu dalam sebuah barisan yang rapi, serta memohon kepada Allah I untuk dimenangkan dari musuh-musuh yang akan menghancurkan kaum mu'minin".

Dan bila telah khatam maka mulailah kembali membaca dari awal Al Qur'an itu, seperti hadits dibawah ini :

سنن الترمذي - (ج 10 / ص 202/ ح 2872) و المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 5 / ص 155/ ح 2046) و سنن الدارمي - (ج 10 / ص 385/ح 3540) : حَدَّ ثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّ ثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ الرَّبِيعِ حَدَّ ثَنَا صَالِحٌ الْمُرِّيُّ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَ ارَ ةَ بْنِ أَوْفَى عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَارَسُو لَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَالُّ الْمُرْ تَحِلُ قَالَ وَ مَا الْحَالُّ الْمُرْ تَحِلُ قَالَ الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِ هِ كُلَّمَا حَلَّ ارْ تَحَلَ

Dari Ibnu Abbas t yang meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah r : "Ya Rasulullah manakah amal yang disukai oleh Allah?". Rasulullah r menjawab :" Al Haallul Murtahil". Lelaki itu bertanya lagi : "Apakah Al Haallul Murtahilul itu?". Rasulullah r menjawab :"Orang yang memulai lagi membaca Al Qur'an setelah dia khatam membaca, kemudian dia memulai lagi dari awal hingga akhirnya, kemudian dia mulai lagi membacanya dari awal".


15. Membaca Al Qur'an Secara Rutin Dan Menghafalkannya

Disyariatkan kepada umat Muhammad r ini untuk membaca secara rutin dan pada waktu-waktu tertentu. Sedapat mungkin menghafalnya sekuat mungkin sesuai dengan kemampuan pada diri masing-masing, hal ini disandarkan pada hadits berikut ini :

سنن الترمذي - (ج 10 / ص 155/ ح 2837) و مسند أحمد - (ج 4 / ص 378/ ح 1846) و المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 5 / ص 101/ ح 1995) : حَدَّ ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّ ثَنَا جَرِيرٌ عَنْ قَا بُوسَ بْنِ أَبِي ظَبْيَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْ فِهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ

Dari Ibnu Abas t, bahwa Rasulullah r bersabda : "Sesungguhnya orang yang tidak ada Al Qur'an di dalam hatinya sama dengan rumah yang runtuh".

سنن أبي داود - (ج 2 / ص 50/ ح 390) و سنن الترمذي - (ج 10 / ص 158/ ح 2840) و مصنف عبد الرزاق - (ج 3 / ص 361 / ح 5977) و المعجم الأوسط للطبراني - (ج 14 / ص 255/ ح 6677) و مسند أبي يعلى الموصلي - (ج 9 / ص 300/ ح 4152) و صحيح ابن خزيمة - (ج 5 / ص 81/ ح 1232) : حَدَّ ثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ الْخَزَّ ازُ أَخْبَرَ نَا عَبْدُ الْمَجِيدِ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رَوَّادٍ عَنِ ابْنِ جُرَ يْجٍ عَنْ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْطَبٍ عَنْ أَ نَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى الْقَذَ اةُ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنَ الْمَسْجِدِ وَ عُرِضَتْ عَلَيَّ ذُ نُوبُ أُمَّتِي فَلَمْ أَرَ ذَ نْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَ ةٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ آ يَةٍ أُو تِيَهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا

Dari Anas bin Malik t, bahwa Rasulullah r bersabda :"Dihadapkan kepadaku pahala-pahala ummatku sampai kepada pahala bulu yang dikeluarkan dari dalam masjid. Dan dihadapkan kepadaku dosa-dosa ummatku maka tidaklah aku melihat sebuah dosa yang lebih besar dari satu surat Al Qur'an atau satu ayat yang diberikan kepada seseorang kemudian dilupakannya".

سنن أبي داود - (ج 4 / ص 272/ ح 1260) و سنن الدارمي - (ج 10 / ص 218/ ح 3403) : حَدَّ ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ أَخْبَرَ نَا ابْنُ إِدْرِيسَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي زِيَادٍ عَنْ عِيسَى بْنِ فَائِدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَ ةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ اِمْرِئٍ يَقْرَ أُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَنْسَاهُ إِلاَّ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَجْذَمَ

Dari saad bin Ubadah t, bahwa Rasulullah r bersabda :"Tiadalah seseorang yang membaca Al Qur'an kemudian melupakannya, melainkan ia akan bertemu dengan Allah I dalam keadaan terpotong tangannya".

صحيح البخاري - (ج 15 / ص 447/ ح 4645) و صحيح مسلم - (ج 4 / ص 202/ ح 1317) : حَدَّ ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّ ثَنَا أَ بُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَ يْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَ ةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ اْلإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

Dari Abu Musa t, bahwasannya Rasulullah r bersabda :"Jagalah Al Qur'an, Demi Tuhan yang diriku ada di tangan-Nya, Al Qur'an itu lebih mudah terlepas dari pada unta pada tambatannya".

موطأ مالك - (ج 2 / ص 120/ ح 424) و صحيح البخاري - (ج 15 / ص 445/ ح 4643) و مسند أحمد - (ج 9 / ص 472/ ح 4436) : حَدَّ ثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِ نَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ اْلإِ بِلِ الْمُعَقَّلَةِ إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا وَ إِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ

Dari Ibnu Umar t, bahwa Rasulullah r bersabda : "Sesungguhnya orang yang menguasai Al Qur'an sama dengan orang yang memiliki unta yang terikat, jika dijaganya ia akan memilikinya, jika dilepaskan ia akan pergi (hilang)".

سنن الترمذي - 10 / ص 195/ ح 2866) و سنن النسائي - 4 / ص 14/ ح 934) و مسند أحمد - (ج 8 / ص 299/ ح 3764) : حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ حَدَّ ثَنَا أَ بُو دَ اوُدَ أَ نْبَأَ نَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ قَال سَمِعْتُ أَ بَا وَ ائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ

النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ بِئْسَمَا ِلأَحَدِهِمْ أَوْ ِلأَحَدِكُمْ أَنْ يَقُولَ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَ كَيْتَ بَلْ هُوَ نُسِّيَ فَاسْتَذْ كِرُوا الْقُرْآنَ فَوَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ ….

Hadits dari Abdullah t, dari Rasulullah r, ia bersabda : "Celakalah seseorang yang mengatakan saya lupa ayat ini dan ayat ini, tetapi (katakanlah) : 'Ia dilupakan'. Ingat-ingatlah Al Qur'an itu, karena sesungguhnya ia lebih mudah lepasnya dibandingkan dengan binatang ternak dari hadapan seseorang".

Kesimpulan dari hadits diatas :

a. Jagalah Al Qur'an itu terutama yang sudah dihapal, jangan sampai lupa lagi.

b. Melupakannya dan tidak menjaga hafalan merupakan sebuah dosa.

c. Jika kita lupa jangan mengatakan aku sudah lupa, tapi katakan aku telah dilupakan, dengan artian ada itikad untuk mengingatnya kembali untuk kemudian menjaganya dan menambah hafalannya.


16. Manfaat Membaca Al Qur'an [1]

Al Hafidz Al Mundziri setelah mengemukakan beberapa hadits yang berkaitan dengan tilaawatil Qur'an menyimpulkan manfaat tilaawatil Qur'an (Khulaashatu tsamarati qiraa'atil Qur'an) itu didalam AT TARGHIIBU WAT TARHIIB III : 358, sebagai berikut :

1. Pembaca Al Qur'an itu ditempatkan pada tempat orang-orang yang besar, utama lagi tinggi derajatnya.

2. Pembaca Al Qur'an memperoleh kebajikan dari setiap huruf yang dibacanya dan bertambah tinggi derajatnya di sisi Allah I.

3. Pembaca Al Qur'an dilindungi rahmat oleh Allah I, dikelilingi oleh Malaikat dan diturunkan oleh Allah untuknya ketenangan dan ketentraman.

4. Pembaca Al Qur'an hatinya mendapat nur dari Allah I, terpelihara dari kegelapan hari kiamat dan terlepas dari segala macam kesukaran.

5. Pembaca Al Qur'an itu baunya harum, rasanya manis, disenangi oleh orang-orang yang shalih yang ingin menghirup kewangian baunya. Bila ia membaguskan bacaannya dan memperbaiki hafalannya, maka naiklah derajatnya menyamai malaikat yang abrar dan dihimpunkan Allah I nanti di hari kiamat bersama orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah I, yaitu para nabi, para shidiqin dan para shalihin), karena kemahirannya membaca Al Qur'an.

6. Pembaca Al Qur'an tidak merasa susah pada hari kiamat, karena ia dalam pemeliharaan Allah I. Dan kalam Allah I itu memberi faedah kepadanya di dunia.

7. Pembaca Al Qur'an juga merupakan rahmat bagi kedua orang tuanya dan mendapatkan nur yang bercahaya dihari kiamat, karena bacaan anaknya.

8. Pembaca Al Qur'an mendapat kedudukan yang tinggi di dalam syurga dan ia akan memperoleh puncak kenikmatan syurga.

9. Pembaca Al Qur'an dirindukan oleh orang-orang yang shalih dan mereka ingin mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah I serta mereka ingin beramal seumpama pembaca Al Qur'an itu.

10. Pembaca Al Qur'an di kelilingi oleh para malaikat yang berdo'a dan akan memohonkan ampunan baginya serta memohonkan ketinggian derajat baginya.

11. Pembaca Al Qur'an berpegang kepada tali Allah I yang kokoh, terpelihara dari kekeliruan dan terlepas dari segala macam kesukaran dan kesulitan.

12. Pembaca Al Qur'an tergolong muqarrabin, orang yang dekat kepada Allah I, orang pilihan yang mengiringi Allah I di hari kiamat, orang yang sibuk dan patuh kepada Allah I.


17. Adab Membaca Al Qur'an

Membaca Al Qur'an adalah ibadah dan merupakan dzikir yang utama. Dengan membaca Al Quran berarti kita sedang bermunajat dengan Allah I yang nilainya jauh lebih tinggi dari percakapan antara sesama manusia, bagaimanapun pentingnya yang dipercakapkan itu. Sebab itu hendaklah membaca Al Qur'an dilakukan dengan memelihara adab-adabnya. Ada adab lahir dan ada adab bathin.

Para ulama yang terkenal, misalnya Imam Al Ghazali, Al Hafidz Al Mundziri, Imam Nawawi dan lain-lain, masing-masing telah menuliskan dalam kitab karangan mereka. Sebagiannya ada yang dikutip oleh Prof. T.M. Hasbi Ash Shieddieqy dalam Pedoman Dzikir dan doanya.

Berikut ini sebagian dari adab membaca Al Qur'an itu yang kami ketahui mempunyai dasar yang kuat dari Kitab Allah I dan sunnah Rasulullah r.


A. ADAB-ADAB LAHIR

1. Membaca Al Qur'an dengan berwudlu', walaupun tidak dimakruhkan membaca Al Qur'an bagi orang yang sedang berhadas.

2. Membaca Al Qur'an di tempat yang bersih dan mulia, terutama di dalam mesjid. Dan dengan memakai pakaian yang bersih.

3. Membaca Al Qur'an sambil duduk dengan menghadap kiblat. Menundukkan kepala, sopan santun dan dalam sikap yang tenang. Walaupun dibenarkan membaca Al Qur'an sambil berdiri atau sedang berbaring, sebagaimana telah diterangkan didepan.

4. Membersihkan mulut terlebih dahulu dengan menyikat gigi dan sebagainya.

5. Membaca dengan suara dan lagu yang bagus, terjauh dari riya. Menjaga agar lagu dan bacaan itu tidak keluar dari ketentuan ilmu tajwid. Melagukan bacaan Al Qur'an secara berlebih-lebihan sehingga merusak mad dan makhraj huruf, haram hukumnya.

6. Mentafkhimkan suara, yakni membaca dengan suara agak keras. Jika takut akan datang riya, maka sebaiknya membaca dengan agak pelan. Demikian juga agar jangan mengganggu orang yang sedang shalat atau yang sedang tidur.

7. Membaca dengan tartiil, yaitu menyempurnakan hak-hak huruf (panjang pendeknya bacaan) dan tidak terlalu cepat. Firman Allah I :

وَ رَ تِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْ تِيلاً [المزمل/4]

Dan bacalah Al Qur'an itu dengan tartiil (perlahan-lahan).

Maksudnya bacalah Al Qur'an itu perlahan-lahan (jangan cepat), karena dengan demikian akan lebih mudah memahami isinya dan meresapkan maknanya ke dalam hati.

8. Menghindarkan diri dari memutuskan bacaan karena berbicara dengan seseorang. Al Hulaimi menegaskan : "Tidak disukai memutuskan bacaan Al Qur'an, karena hendak berbicara dengan seseorang. Karena tidak layak mementingkan kalam manusia dari kalam Allah I". Ibnu 'Umar t menurut riwayatnya, bila ia sedang membaca Al Qur'an tidak pernah berbicara dengan seseorang sebelum selesai membaca. Tidak disukai ketika membaca Al Qur'an tertawa-tawa, bermain-main atau melihat sesuatu yang melalaikan.

9. Membaca menurut tertib mushaf, disukai demikian karena tertib Al Qur'an mempunyai hikmah tersendiri. Sebab itulah jangan meninggalkan tertib (urutan surat demi surat atau ayat demi ayat), kecuali karena ada sesuatu kepentingan yang dibolehkan oleh nash syara'. Walaupun dibolehkan membaca tidak menurut tertib surat atau ayat dan dibolehkan membaca satu-satu ayat, tetapi yang terbaik adalah menurut tertib. Membalikkan bacaan dari akhir ke awal, haram hukumnya.

10. Memulai bacaan dari awal surat berhenti pada akhirnya dan janganlah terpengaruh oleh juzu', hizb dan 'usyer.

11. Membaca Ta'awwudz sebelum memulai bacaan, sesuai dengan firman Allah I :

فَإِذَ ا قَرَ أْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِا للَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ [النحل/98]

Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

12. Membaca Basmalah di awal setiap surat, kecuali surat Al Baraa-ah.

13. Berniat membaca Al Qur'an Ikhlas karena Allah I. Kalau karena nadzar niatkan untuk nadzar tersebut.

14. Membaca Sujud Tilawah pada ayat yang ada sujud tilawahnya.

15. Membaca Amin setiap selesai membaca surat Al Fatihah, lihat hadits berikut ini:

سنن الترمذي - (ج 1 / ص 420/ ح 231) و مسند أحمد - (ج 38 / ص 304/ ح 18088) : حَدَّ ثَنَا بُنْدَ ارٌ مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّ ثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالاَ حَدَّ ثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ حُجْرِ بْنِ عَنْبَسٍ عَنْ وَ ائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَرَ أَ { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالِّينَ } فَقَالَ آمِينَ وَ مَدَّ بِهَا صَوْ تَهُ

Hadits dari Wail bin Hujur t, ia berkata : 'Aku mendengar Nabi r membaca kalimat : غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَ لاَ الضَّالِّينَ lalu mengucapkan Amin dengan suaranya dipanjangkan.

16. Memohon Rahmat dan berlindung dari Azab. Bila bertemu dengan ayat rahmat mohonkanlah rahmat itu untuk anda, apabila bertemu dengan ayat azab mohonkanlah perlindungan azab bagi anda, dan demikianlah seterusnya. Lihat hadits dibawah ini :

سنن أبي داود - (ج 3 / ص 38/ ح 739) و سنن النسائي - (ج 4 / ص 326/ ح 1120) : حَدَّ ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّ ثَنَا ابْنُ وَ هْبٍ حَدَّ ثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ اْلأَشْجَعِيِّ قَالَ قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَ أَ سُورَةَ الْبَقَرَ ةِ لاَ يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلاَّ وَ قَفَ فَسَأَلَ وَ لاَ يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَ ابٍ إِلاَّ وَ قَفَ فَتَعَوَّذَ ...

Dari Auf Ibnu Malik t, ia berkata : Aku shalat malam bersama Rasulullah r, maka beliau membaca Surat Al Baqarah, dan apabila melewati ayat tentang rahmat beliau berhenti membaca surat dan memohon rahmat dan kemudian melanjutkan bacaan surat Al Baqarahnya dan apabila melewati ayat adzab, beliau berhenti dan memohon perlindungan dari adzab tersebut…..

17. Membaca ayat Al Qur'an, ayat per ayat tidak disambungkan. Lihat hadits berikut ini :

صحيح البخاري - (ج 15 / ص 466/ ح 4658) : حَدَّ ثَنَا عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ حَدَّ ثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَ نَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَ اءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ كَا نَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَ أَ { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ وَ يَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ وَ يَمُدُّ بِالرَّحِيمِ

Dari Qatadah t, ia berkata Anas bin Malik t ditanya seseorang bagaimanakah bacaan Nabi r, maka Anas t menjawab : Bacaan Nabi r itu ada Mad (memakai hukum tajwid jelas panjang pendeknya) Kemudian beliau membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ beliaua memanjangkan بِسْمِ اللَّهِ memanjangkan الرَّحْمَنِ memanjangkan الرَّحِيمِ .

سنن الترمذي - (ج 10 / ص 172/ ح 2851) : حَدَّ ثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَ نَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ اْلأُ مَوِيُّ عَنِ ابْنِ جُرَ يْجٍ عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُو لُ اللَّهِ صَلـَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يُـقَطِّـعُ قِرَ اءَ تَهُ يَقُولُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } ثُمَّ يَقِفُ { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } ثُمَّ يَقِفُ وَ كَانَ يَقْرَؤُهَا { مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ }

Dari Ummu Salamah t, ia berkata Rasulullah r memotong-motong bacaannya, beliau membaca الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ kemudian beliau berhenti, الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ kemudian berhenti, dan beliau melanjutkan dengan membaca مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ .

Demikianlah sunnah Rasulullah r mencontohkan kepada kita dimana ayat demi ayat jelas pemberhentiannya tidak disambung-sambungkan. Adab membaca berhenti tiap ayat merupakan adab kebiasaan beliau sehingga memudahkan kita membaca, memahami dan merenungkannya.

18. Mengakhiri setiap selesai membaca Al Qur'an dengan ucapan Hamdallah, karena Rasulullah senang mengawali sesuatu dengan Basmallah dan mengakhiri dengan Hamdallah. Lihat firman Allah I dibawah ini :

وَ آَخِرُ دَعْوَ اهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ [يونس/10]

Dan akhir dari do'a mereka adalah Alhamdulillahi Robbil 'Aalamiin


B. ADAB-ADAB BATHIN

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya-u ' Uluumiddiin I : 281 -290 menuliskan sepuluh perkara tentang adab-adab bathin, kemudian tulisannya dikutip dan disimpulkan oleh Al Mundziri dalam kitabnya Attarghib wat tarhiib II : 365 sebagai berikut :

1. Fahmu 'azhamatil kalaam, Menyadari keagungan dan ketinggian kalam Ilahi (Al Qur'an / wahyu Allah I) dan memahami keutamaan Allah I dan kasih sayangNya kepada makhlukNya sehingga dengan perkenanNya kita dapat memahami dan menghayati serta mengamalkannya.

2. At Ta'zhim, Mengangunggkan Allah I dan menyadari bahwa yang dibacanya itu bukan perkataan manusia, sedangkan bathin pembaca Al Qur'an itu hendaklah bersih dari segala noda dan bercahaya dengan nur membesarkan Allah I dan mengangungkanNya.

3. Hudluurul qalbi, memusatkan hati (fikiran, perasaan dan kemauan) dan menjauhkan diri dari bisikan jiwa yang tidak ada hubungannya dengan ayat yang di baca.

4. At Tadabbur, merenungkan apa makna ayat yang di baca. Imam Ali Abi Thalib t berkata : "Tidak ada kebaikan dalam ibadat yang tidak difahami artinya, dan tidak ada kebaikan dalam bacaan Al Qur'an yang tidak direnungkan maksudnya".

5. At Tafahhum, memahami makna ayat-ayat yang dibaca yang menunjukkan sifat-sifat Allah I Yang Maha Mulia dan Maha Sempurna.

6. At Takhallii, menjauhkan diri dari segala rintangan dan halangan yang akibatnya dapat mencegah pengertian dan pemahaman ayat-ayat yang di baca.

7. At Takhshish, yaitu menentukan maksud yang dikehendaki oleh kitab Al Qur'an itu, mana yang disuruh, mana yang dilarang, mana yang diancam. Dan mengambil I'tibar dari kisah Nabi-nabi.

8. At Ta'atstsur, memberikan kesan ke dalam hati dan menanamkan rasa takut kepada Allah I. Berkata Hasan bin Ali t : " Demi Allah tidaklah membaca Al Qur'an seorang hamba pada pagi hari, melainkan banyak sedihnya, berkurang olok-oloknya dan banyak tangisnya, sedikit ketawanya, banyak kesibukannya dan jerih payahnya serta sedikit istirahatnya dan tiada kemalasannya".

9. At Taraqqii, meningkat kesadarannya :

a. Bahwa ia membaca Al Qur'an di hadapan Allah I.

b. Ia menyaksikan dengan hatinya, bahwa Allah I melihatnya, mengajaknya berbicara dengan lemah lembut, bermunajat dengannya tentang nikmat yang diberikanNya dan kebaikan-kebaikanNya, sehingga timbul rasa malu yang menimbulkan keseriusan untuk membesarkan, memperhatikan dan memahami ayat-ayat Allah I.

c. Ia menyadari dalam kalam Allah I yang dibacanya, dan terbayang siapa yang mengungkapkannya. Dan dalam kalimat-kalimatnya tercermin sifat-sifatNya. Maka tenggelamlah ia dalam pengakuan kepada Allah I.

10. At Tabarriy, membersihkan diri dan berpaling memperhatikan dirinya dengan ridla dan tazkiyah (mensucikan diri/jiwa). Bila ia membaca ayat-ayat janji yang baik dan pujian bagi orang-orang yang shalih, maka terbayanglah kepadanya golongan orang yang yakin dan shididiqiin. Ia rindu untuk bergabung bersama mereka dengan izin Allah t. Bila ia membaca ayat-ayat kutukan, celaan terhadap orang yang maksiat dan yang menyia-nyiakan perintah Allah I, terbayanglah oleh dirinya, seolah-olah dirinya itulah yang di kecam oleh ayat yang bersangkutan, karena takutnya dan cemasnya. Maka tidaklah heran apabila Umar bin Khattab t selalu berdoa dengan kalimat : "ALLOHUMMA INNII ASTAGHFIRUKA LI ZHULMII WA KUFRII (Ya Allah sesungguhnya aku memohon ampunanMu dari Kezaliman diriku dan Kekufuran diriku). Lalu ia ditanya orang, ini baru kezaliman, lalu bagaimana tentang kekafiran?. Lantas beliau t menjawab dengan membaca ayat :

إِنَّ اْلإِ نْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ [إبراهيم/34]

Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah).


[1] T.A Lathief Rousydiy, Dzikir dan Doa Rasulullah SAW, Fa Rimbow, Cetakan Pertama, Tahun 1985 M / 1406 H, Jl Sisingamangaraja 14-14A, Medan, Sumatera Utara.

1 komentar:

  1. Ass.wr.wb
    Bagi sahabat yang akan memberikan komentar, silahkan untuk memperbaiki tulisan ini dengan tambahan yang lebih baik atau koreksi atas kesalahan yang ada. Trim's. Wass. wr. wb

    BalasHapus