Al Qur'an

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَ ةَ وَ أْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَ انْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ اصْبِرْ عَلَى مَا أَصَا بَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور [لقمان/17]

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukmaan (31) : 71

SILAHKAN DISEBARKAN

SILAHKAN DIPERBANYAK / DISEBARKAN DENGAN COPY PASTE ASAL SEBUTKAN SUMBERNYA, TERIMA KASIH

Minggu, 14 Agustus 2011

5 (LIMA) MACAM HIDAYAH




Catatan dan oleh-oleh dari Ust  Saifuddin Asm


Permohonan hidâyah kepada Allâh I agar berada pada jalan yang benar adalah sangat penting, sebab tidak semua hidâyah diberikan oleh-Nya secara gratis. Ada hidâyah yang hanya diberikan kepada orang yang mencari dan memohon kepada Allâh I. Muhammad Abduh, (Tafsir al-Manar, I/h.62) Musthafa Almaroghi, (Tafsir al-Maraghi, I/h. 35-36) dan Wahbah al-Zuhayli, (al-Tafsir al-Munir, I/h.59-60 ) menerangkan bahwa hidâyah itu terdiri atas beberapa macam :

1. (هِدَايَة الإلْهَام الفِطْري) Hidâyah al-ilham al-Fithri

Hidâyah yang diberikan Allâh I sejak manusia baru lahir, sehingga butuh dan bisa makan dan minum. Seorang bayi suka menangis jika lapar atau dahaga, padahal tidak ada yang mengajarinya. Tanpa melalui proses pendidikan, bayi juga bisa tertawa tatkala bahagia. Hidâyah ini diberikan oleh Allâh I tanpa usaha dan tanpa permintaan manusia.

2. (هِدَايَة الحَوَاس) Hidâyah al-Hawas.

Hidâyah ini diberikan Allâh I kepada manusia dan hewan. Bedanya kalau kepada hewan diberikannya secara sekaligus, dan sempurna sejak dilahirkan induknya. Sedangkan pada manusia hidâyah al-hawas diberikan secara berangsur. Dengan hidayah ini, manusia bisa membedakan rasa asin, pahit, manis, enak, lada, bau, harum, kasar atau pun halus, tanpa melalui peroses pembelajaran. Pembelajaran dalam hal ini berfungsi untuk memfungsikan Hidâyah al-Hawas secara optimal. ini dikenal juga dengan Panca-Indra yang terdiri atas: lidah sebagai alat rasa; mata sebagai alat melihat; telinga sebagai alat mendengar; hidung sebagai alat hirup yang mengetahui bau atau harum; dan kulit bisa merasa panas, dingin atau keras dan lunak. Itu semua termasuk hidâyah al-hawas.

3. (هِدَايَة العَقْل)  Hidâyah al-’Aqli.
 
Seorang manusia, bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, karena ia diberi hidâyah al-’aqli. Jadi fungsi hidayatul-Aqli adalah untuk meluruskan pandangan hidâyah al-ilham dan hidâyah al-hawas yang kadang-kadang salah tanggapannya.

4. (هِدَايَة الدِّين) Hidâyah al-Din atau hidâyah diniyah atau hidâyah syar’iyah.

Ialah petunjuk Allâh I  berupa ajaran dan hukum-hukum yang meluruskan kekeliruan yang muncul akibat aqal yang dipengaruhi nafsu. Untuk meluruskan pendapat akal itu, maka Allâh I  memberi manusia Hidâyah al-Din pedoman hidup yang berfungsi membimbing manusia ke jalan yang benar. Allâh I  berfirman:
وَ هَــدَ يْنَــاهُ  النَّجْــدَ يْنِ
Dan telah Kami beri petunjuk dua jalan hidup (Qs. QS Al Balad (90):10)

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa menurut ayat ini, Allâh I memberikan jalan hidup itu terdiri atas baik dan yang buruk. Manusia dengan aqalnya dipersilakan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Hidâyah al-din membimbing manusia untuk mengambil jalan yang lurus. Namun hidayah ini tidak bisa diperoleh manusia tanpa melalui peroses pembelajaran. Hanya orang yang mempelajari syari'ah, yang meraih hidâyah al-Din.

إِنَّ  هَذَا  الْقُرْءَانَ  يَهْدِي   لِلَّتِي  هِيَ  أَقْوَمُ  وَ  يُبَشِّرُ  الْمُؤْمِنِينَ  الَّذِينَ  يَعْمَلُونَ  الصَّالِحَاتِ  أَنَّ  لَهُمْ  أَجْرًا  كَبِيرًا
Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih, sesungguhnya bagi mereka itu pahala yang maha besar. (QS.  Al Isra (17): 9)

Sesungguhnya Allâh I telah memberikan penjelasan sejelas-jelasnya, bahwa Al-Qur’an itu memberi petujuk ke jalan yang lurus, baik dan mencapai bahagia paripurna.
 
5. (هِدَايَة التَّوفِيْق والمَعُونَة) Hidayat al- Taufiq.

Allâh I memberikan hidâyah yang tersebut di atas, Hidayatul Ilham, Hidayatul-hawas dan Hidayat al-Din Wasyara’i, kepada menusia berlaku umum. Setiap manusia menerima hidâyah ilham, hidâyah hawas, hidâyah aqal. Kemudian hidâyah diniyah, bisa diperoleh melalui pembelajaran. Namun tidak setiap manusia mendapat hidâyah al-taufîq, walau belajar atau diajari. Tidak sedikit manusia masih senang memilih jalan yang bertentangan dengan aturan Allâh I, walau sudah memiliki hidâyah al-Din melalui juru da'wah.

وَ أَمَّا  ثَمُودُ  فَهَدَ يْنَاهُمْ  فَاسْتَحَبُّوا  الْعَمَى  عَلَى  الْهُدَى  فَأَخَذَتْهُمْ  صَاعِقَةُ  الْعَذَ ابِ  الْهُونِ   بِمَا  كَانُوا يَكْسِبُونَ
Pada kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk, namun mereka mengambil jalan buta kesesatan dan meninggalkan petunjuk itu. Maka mereka disambar petir sebagai siksa yang menghina kan, akibat dari perbuatan mereka (Qs.Fushilat (41): 17)

Dengan demikian orang yang menemukan hidâyah al-Din, tidak dijamin berakhlaq benar. Tidak sedikit, orang yang faham tentang hukum agama, tapi akhlaqnya buruk. Hidâyah diniyah yang diturunkan kepada kaum 'Ad adalah melalui Rasul, Hud As (QS. Al ‘araf (7) : 65). Tsamud menerima hidâyah diniyah dari Allâh melalui Nabi Shalih As (QS. Al ‘araf (7) : 73). Ahli Madyan menerima hidâyah diniyah (syara’i) dari Allâh melalui Nabi Syu’aib (QS. Al ‘araf (7) : 85). Fir’aun menerima hidâyah diniyah dari Allâh melalui Nabi Musa dan Nabi Harun As (Qs Thaha, Al-Qashash). Abi Thalib, Abu Jahl dan para pengikutnya juga menerima hidâyah diniyah dari Allâh melalui Rasul I. Namun kaum yang tersebut tadi tidak mau beriman. Itu sebagai bukti bahwa mereka tidak mendapat hidâyah taufiq dari Allâh I.  Hidâyah al-taufîq adalah anugrah Allâh I yang diberikan kepada manusia hingga sikap dan perbuatannya memilih yang baik yang sesuai dengan ajaran al-Islam. Hidâyah Taufiq tidak akan diterima tanpa ada usaha untuk menerimanya, dan tanpa dianugerahkan Allah I. Itulah sebabnya, setiap muslim berusaha dan berdo'a untuk menerima hidâyah taufiq. Hidâyah Taufiq hanya akan diberikan Allâh I kepada orang yang berkeinginan untuk menerimanya. Orang yang tidak menginginkannya dan tidak berusaha untuk mendapatkannya, tidak akan menerimanya. Rasul r, berusaha ingin meng-Islamkan Abi Thalib, namun dia tidak mau. Hidâyah Taufiq tidak diterima Abi Thalib, karena dia tidak mau. Hidâyah taufiq tidak diterima Abi Thalib karena dia tidak berusaha untuk menerimanya dan tidak pula menginginkannya. الصِّرَاط المُسْتَقِيم adalah agama Islam yang telah diturunkan Allâh I melalui seluruh nabi dan rasul-Nya. Tidak ada nabi dan rasul yang diutus selain mengajarkan al-Islam. Allâh I berfirman:

وَهَذَا  صِرَاطُ  رَ بِّكَ  مُسْتَقِيمًا  قَدْ  فَصَّلْنَا  الآيَاتِ  لِقَوْمٍ   يَذَّكَّرُونَ
Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. (Qs.  Al An’am (6):126)

2 komentar: