Al Qur'an

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَ ةَ وَ أْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَ انْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ اصْبِرْ عَلَى مَا أَصَا بَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور [لقمان/17]

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukmaan (31) : 71

SILAHKAN DISEBARKAN

SILAHKAN DIPERBANYAK / DISEBARKAN DENGAN COPY PASTE ASAL SEBUTKAN SUMBERNYA, TERIMA KASIH

Jumat, 05 Agustus 2011

Adab Bergaul Sesama Saudara Muslim (Bagian 1)



اْلأَخِلاَّءُ  يَوْمَئِذٍ  بَعْضُهُمْ   لِبَعْضٍ  عَدُوٌّ  إِلاَّ  الْمُتَّقِينَ  [الزخرف/67]
Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.


Tafsirnya :
(اْلأَخِلاَّءُ) Al-akhillā-u (sahabat-sahabat karib) dalam kemaksiatan.
(يَوْمَئِذٍ) Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat, seperti ‘Uqbah bin Abi Mu‘ith dan Ubay bin Khalaf.

(بَعْضُهُمْ   لِبَعْضٍ  عَدُوٌّ  إِلاَّ  الْمُتَّقِينَ) Ba‘dluhum li ba‘dlin ‘aduwwun illal muttaqīn (sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa), yakni orang-orang yang menjauhi kekafiran, kemusyrikan, dan perbuatan-perbuatan buruk seperti Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan teman-teman mereka. Keadaan mereka tidak seperti (‘Uqbah bin Abi Mu‘ith dan Ubay bin Khalaf).


Maknanya :
Allah I memerintahkan kepada kita hendaknya pandai-pandai memilih teman bergaul dalam kehidupan di dunia dimana hidup tak terulang dan hanya sekali, karena pengaruh baik dan buruk tergantung dari teman-teman dan sahabatnya, bahkan tidak jarang kita terbawa dan terpengaruh oleh kebiasaan baik maupun  kebiasaan buruk mereka. Memilih teman yang baik bisa menghasilkan syurga tetapi  bergaul dengan yang buruk menyeret kita ke Neraka. Lihat sabda Rasulullah r :
سنن أبي داود - (ج 12 / ص 459/ح 4193) و سنن الترمذي - (ج 8 / ص 383/ح 2300) و مسند أحمد - (ج 16 / ص 226/ح 7685) :حَدَّ ثَنَا  ابْنُ  بَشَّارٍ حَدَّ ثَنَا  أَ بُو  عَامِرٍ  وَ  أَ بُو  دَ اوُدَ  قَالاَ  حَدَّ ثَنَا  زُهَيْرُ   بْنُ   مُحَمَّدٍ  قَالَ  حَدَّ  ثَنِي   مُوسَى   بْنُ   وَرْدَ انَ  عَنْ   أَبِي   هُرَ  يْرَ ةَ    أَنَّ   النَّبِيَّ   صَلَّى   اللَّهُ   عَلَيْهِ   وَ  سَلَّمَ   قَالَ ) الرَّجُلُ  عَلَى  دِينِ  خَلِيلِهِ  فَـلْيَنْظُرْ  أَحَدُ كُمْ  مَنْ  يُخَالِلُ(
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Amir dan Abu Dawud keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad ia berkata; telah menceritakan kepadaku Musa bin Wardan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ("Seseorang itu (sangat) tergantung dengan agama teman gaulnya, maka hendaklah seseorang (diantaramu) melihat siapa yang menjadi teman gaulnya.")

Dari pembukaan di atas maka adab atau etika bergaul yang benar-benar harus kita perhatikan adalah sebagai berikut :

1. Memilih teman bergaul dan bersahabat harus dengan orang yang baik akhlaknya

Hadits dalam pembukaan diatas : ("Seseorang itu bergantung dengan agama teman gaulnya, maka hendaklah seseorang (diantaramu) melihat siapa yang menjadi teman gaulnya."), hal ini mempertegas pernyataan Rasulullah r, bahwa kita harus pandai memilih dan memilah teman bergaul untuk kepentingan dunia dan akhirat kita, terkadang adat-istiadat, budaya dan prilaku seseorang itu saling mempengaruhi.  Abu Said Al Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah r bersabda :

سنن أبي داود - (ج 12 / ص 458/ح 4192) و سنن الترمذي - (ج 8 / ص 412/ح 231) و مسند أحمد - (ج 22 / ص 454/ح 10909) و المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 16 / ص 499/ح 7273) و سنن الدارمي - (ج 6 / ص 246/ح 2109) و مسند أبي يعلى الموصلي - (ج 3 / ص 325/ح 1281) و صحيح ابن حبان - (ج 3 / ص 103/ح 555)  : حَدَّ ثَنَا  عَمْرُو  بْنُ  عَوْنٍ  أَخْبَرَ نَا  ابْنُ  الْمُبَارَ كِ  عَنْ  حَيْوَ ةَ   بْنِ  شُرَ يْحٍ  عَنْ  سَالِمِ  بْنِ  غَيْلاَ نَ  عَنْ  الْوَ لِيدِ  بْنِ  قَيْسٍ  عَنْ  أَبِي  سَعِيدٍ  أَوْ  عَنْ  أَبِي  الْهَيْثَمِ  عَنْ  أَبِي  سَعِيدٍ  عَنْ  النَّبِيِّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  قَالَ ) لاَ  تُصَاحِبْ   إِلاَّ   مُؤْ مِنًا  وَ  لاَ   يَأْ  كُلْ  طَعَامَكَ  إِلاَّ   تَقِيٌّ (
Telah menceritakan kepada kami Amru bin Aun berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnul Mubarak dari Haiwah bin Syuraih dari Salim bin Ghailan dari Al Walid bin Qais dari Abu Sa'id atau dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: ("Janganlah kalian berkawan kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan sampai memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.")

Larangan pertemanan ini mencakup larangan bersahabat dengan pelaku dosa besar dan orang yang suka berbuat dosa, karena mereka melakukan apa yang Allah I haramkan. Kepada Allah I saja dia berani maksiat dan melawan apalagi kepada makhluk. Kepada Allah I saja yang memberikan segala kebaikan dan kenikmatan dia ingkar apalagi kepada manusia, Kepada Allah I saja tidak amanah apalagi kepada teman-temannya. Berteman dengan mereka akan mendatangkan kemudharatan pada agama kita. Terlebih lagi larangan bersahabat dengan orang-orang kafir dan munafik, maka larangan ini lebih diutamakan. Kita bergaul dengan mereka dalam rangka amar ma’ruf dan nahi munkar itu hal yang diperbolehkan, dan amar ma’ruf serta nahi munkar kita jika mendatangkan kemaslahatan maka lanjutkan, akan tetapi jika tak mendatangkan perubahan apapun pada mereka, meninggalkannya  adalah lebih lebih baik lagi.

Adapun sabda Rasulullah r : (لاَ   يَأْ  كُلْ  طَعَامَكَ  إِلاَّ  تَقِيٌّ) (" jangan sampai memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa."). Al Khatabi berkata, “Larangan ini berlaku pada makanan undangan, bukan makanan kebutuhan, karena Allah I berfirman :
وَ  يُطْعِمُونَ   الطَّعَامَ  عَلَى  حُبِّهِ  مِسْكِينًا  وَ  يَتِيمًا  وَ  أَسِيرًا  [الإنسان/8]
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan

Dari firman tersebut membantu manusia yang tertawan oleh kita dari segi makanan pokoknya dan kebutuhan hidup sehari-harinya adalah wajib, tetangga non muslim yang kekurangan bahan pokok demi kemanusiaan harus kita bantu, bahkan harus menunjukkan bahwa kita ini berdakwah ikhlas kepada sesama makhluk dan mencontoh Rasulullah r sebagai Rahmatan lil ‘alamiin.

Adapun hadits yang lain mempertegas lagi  adalah sebagai berikut :
صحيح البخاري - (ج 7 / ص 287/ح 1959) و صحيح مسلم - (ج 13 / ص 73/ح 4762) : حَدَّ ثَنِي  مُوسَى  بْنُ  إِسْمَاعِيلَ  حَدَّ ثَنَا  عَبْدُ الْوَاحِدِ  حَدَّ ثَنَا  أَ بُو  بُرْدَ ةَ  بْنُ  عَبْدِ  اللَّهِ  قَالَ  سَمِعْتُ  أَ بَا  بُرْدَ ةَ  بْنَ  أَبِي  مُوسَى  عَنْ  أَبِيهِ  رَضِيَ  اللَّهُ  عَنْهُ  قَالَ  قَالَ رَسُولُ  اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  )مَثَلُ  الْجَلِيسِ  الصَّالِحِ  وَ  الْجَلِيسِ  السَّوْ ءِ  كَمَثَلِ  صَاحِبِ  الْمِسْكِ  وَ  كِيرِ  الْحَدَّادِ  لاَ   يَعْدَ مُكَ   مِنْ  صَاحِبِ  الْمِسْكِ   إِمَّا  تَشْتَرِيهِ   أَوْ   تَجِدُ رِيحَهُ  وَ   كِيرُ   الْحَدَّاد ِ  يُحْرِقُ   بَدَ نَكَ   أَوْ   ثَوْ بَكَ   أَوْ   تَجِدُ  مِنْهُ  رِيحًا  خَبِيثَةً  (
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: ("Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya.")

Jelaslah kehati-hatian kita memilih sebuah komunitas pergaulan sangat diperlukan bukan hanya mengatakan saya fleksibel bergaul dengan siapa saja, tetapi berlaku cerdaslah untuk kepentingan diri kita sendiri agar dunia dan akhirat berhasil. JIKA INGIN SUKSES BERGAULLAH DENGAN ORANG-ORANG SUKSES, JIKA INGIN SHOLEH BERGAULLAH DENGAN ORANG-ORANG SHALIH. DAN KITA TAK MELARANG ORANG YANG BURUK MASUK KOMUNITAS KITA..SEMOGA MEREKA TERPENGARUH DENGAN KEBAIKAN YANG ADA DALAM KOMUNITAS TERSEBUT.

Bahkan faktor memilih pasanganpun sangat tergantung dari teman yang yang menjadi teman pergaulannya, karena biasanya sifat mereka tak jauh berbeda dengan teman-temannya.
) إِ يَا كُمْ  وَ خَضْرَ اءَ  الدِّ مَنِ،  قِيْلَ  :  يا رسو ل  الله  وَ  مَا خَضْرَ اءُ  الدِّ مَنِ؟   قَالَ  : اَ لْمَرْ أَ ةُ    اْلحَسَنَاءُ  فيِ  اْلمَنْبَتِ الـسُوْءِ( (رواه   الد ار  قطني)
"Jauhilah olehmu si cantik yang beracun!". Lalu seorang sahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, siapakah si cantik yang beracun itu?". Rasulullah r menjawab : "Perempuan yang cantik, tetapi hidup dan bergaul dengan temannya dalam lingkungan yang jahat ".

Dari hadits tersebut bisa kita simpulkan bahwa lingkungan yang tidak baik, besar kemungkinan dipenuhi oleh kebiasaan, tradisi, dan perilaku yang bertentangan dengan syariat Islam. Lingkungan masyarakat yang mempunyai tradisi berjudi, membuka praktik pelacuran, gemar minuman keras, dan melakukan maksiat-maksiat lainnya, merupakan contoh lingkungan yang tidak baik.

Lingkungan seperti ini jelas merugikan pembinaan akhlak dan keagamaan masyarakatnya, baik perempuan maupun laki-laki, karena apabila tidak mengenal syariat, dia biasa bergaul bebas tanpa mengenal batasan yang sesuai aturan Allah I, menurut mereka asal tidak keluar dari jalur etika dan norma kemasyarakatan sudah cukup. Jelas hal ini lambat laun akan menimbulkan konflik apabila dibina dengan syariat padahal dia kurang suka, dengan alasan dikekanglah, kakulah, dan banyak alasan lainnya.

Tak ada seorangpun yang ingin mencari pasangan hidup bertujuan untuk membina konflik, oleh karena itu pikirkan dengan matang-matang apabila memilih istri/istri yang tidak terbina dengan syariat Islam dan biasa hidup bebas tanpa batasan syariat, walaupun cantik/tampan tapi besar bahayanya dikemudian hari. Ataupun sebaliknya kita mau menikahi karena menyenangi parasnya, hartanya, kekayaannya dan tidak berdasarkan ahlakhnya maka akibatnya seperti yasng disabdakan Rasulullah r dalam hadits berikut :
) لاَ   تَــزَ وَّ جُــوْا  النِّسَآ ءُ  لِحُــسِنِهِنَّ،  فـَـعَسىَ  حُسْنُــهُــنَّ  أَنْ   يُرْدِ يْهِنَّ، و لاَ   تَــزَ وَّ جُــوْا  هُنَّ    ِلاَ مْوَ ا لِـهِنَّ،   فـَـعَسىَ  أَمْوَ ا لِـهِنَّ   أَنْ  تُطْغِيَهُنَّ،  وَ  لَكِنْ   تَــزَ وَّ جُــوْا  هُنَّ   عَلىَ   الدِّ يْنِ  وَ  لاَ  مَةٌ   خَرْمَاءُ   ذَ اتُ  دِ يْنٍ  أَفْضَلُ ( (رواه  عبد  بن  حميد)
"Jangan kau nikahi perempuan karena kecantikannya, barangkali kecantikannya itu akan membinasakannya (membuat dirimu menderita dan merana). Dan jangan kau nikahi perempuan karena hartanya. Barangkali kekayaannya itu akan menyebabkan dia durhaka, tetapi menikahlah kamu dengan perempuan karena agamanya. Sesungguhnya perempuan tak berhidung lagi budek, tetapi faham agamanya adalah lebih baik baginya (daripada perempuan yang dinikahi karena tujuan keduniawian)".

Rasulullah r memberitahukan, bahwa orang yang menikah menyalahi tujuan dari pernikahannya yaitu untuk membentuk sebuah rumah tangga dan mengurus keperluan-keperluannya, maka ia berarti melakukan hal yang berlawanan dengan maksud pernikahan itu, lalu sabdanya :
)مَنْ  تَزَ وَّ جُ   اِمْرَ أَ ةً   لِمَالِهَا لَمْ   يَزِدْهُ  اللهُ  إِلاَّ  فَقْرًا، و  مَنْ  تَزَ وَّ جُ   اِمْرَ أَ ةً  لِحَسَبَهَا  لَمْ   يَزِدْهُ  إِلاَّ  دَ نَاءَ ةً،  و مَنْ  تَزَ وَّ جُ   اِمْرَ أَ ةً  لِيَغُضَّ  بِهَا  بَصَرَهُ، وَ  يُحْصِنَ  فَرْجَهُ، أَوْ  يَصِلَ  رَحِمَهُ،  بارك  اللهُ  لَهُ  فِيهَا و بارك  لهَا فِيهِ(.رواه ابن حبان
"Barang siapa yang menikah dengan perempuan karena hartanya, maka Allah malah akan menjadikannya fakir. Barang siapa menikah dengan perempuan karena keturunannya, maka Allah malah akan menghinakannya. Tetapi barangsiapa menikah dengan perempuan supaya lebih menundukkan pandangannya, membentengi nafsunya atau untuk menyambung tali persaudaraan, maka Allah pasti memberikan keberkahan kepadanya dengan perempuan itu dan kepada perempuan itu diberikan kebarokahan pula".

MENGINGAT KEMATIAN DAN MENYIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPINYA


Karya Imam Al Qurthuby, dari Islamhouse.com


        Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mati, hanya tidak ada di antara kita yang mengetahui kapan kematian itu akan datang

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

"Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…"[i]

Karena kematian itu pasti akan tiba, maka Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita semua agar selalu mengingatnya dan menyiapkan diri dengan bekal setelah kematian itu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هادم اللَّذَّاتِ

"Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)."[ii]

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita semua agar selalu mengingat yang memutuskan atau mengalahkan atau menghancurkan kenikmatan, yaitu kematian yang suatu saat pasti akan tiba, bahkan seringkali datang tanpa terduga dan secara tiba-tiba. Ibnu Umar RA berkata: "Aku sedang duduk bersama Rasulullah, maka datanglah seorang laki-laki dari golongan Anshar, lalu ia memberi salam kepada Nabi  seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, mukmin yang seperti apa yang paling utama? Beliau menjawab:

أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

'Yang paling baik akhlaknya.'

Ia bertanya lagi, 'Mukmin seperti apakah yang paling cerdas? Beliau menjawab:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا, أُولئِكَ اْلأَكْيَاسُ

"Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk sesudah kematian itu, mereka itulah orang-orang yang cerdas."[iii]

Inilah standar kecerdasan yang sebenarnya, yaitu tidak pernah melupakan sesuatu yang pasti akan tiba dan menyiapkan diri dengan sebenarnya untuk hal itu. Tanpa adanya persiapan diri untuk kematian itu, tentu hanya sekedar mengingat tidak banyak berguna dan tidak bermanfaat. Oleh karena itu, cobalah kita bercermin untuk melihat diri kita sendiri, sebelum orang lain, apakah kita sudah memulai untuk melaksanakan perintah Rasulullah SAW ini? Kalau kita sudah memulainya, kalau sudah, lalu bagaimana dengan orang-orang terdekat kita?

Para ulama rahimahullah berkata: sabda Rasulullah SAW yang berbunyi "Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)." 

Merupakan kalimat ringkas yang menggabungkan peringatan dan nasehat, maka orang yang teringat kematian dengan sebenarnya pasti akan mengurangi nikmatnya keindahan dunia yang dia rasakan dan menghalanginya berangan-angan yang tak berujung, serta membuat dia bersikap zuhud terhadap kenikmatan dunia yang semu. 

Akan tetapi jiwa yang kosong dan hati yang lupa membutuhkan nasehat yang panjang dan kalimat yang indah. Jika tidak demikian, maka dalam sabda Nabi  "Perbanyaklah mengingat yang memutuskan kenikmatan (maksudnya: kematian)" dan firman Allah SWT:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

"Setiap jiwa pasti akan merasakan mati…"

Sudah cukup sebagai nasehat yang utama.

Khalifah Umar bin Khaththab RA sering membuat perumpamaan  dengan bait-bait sya'ir berikut ini:

Tidak ada sesuatu yang engkau lihat tetap keceriaannya

Tuhan tetap kekal sedangkan harta dan anak akan binasa

Perbendaharaan harta yang dimiliki Hurmuz[iv], tidak bisa memberi manfaat kepadanya walau hanya satu hari

Dan keabadian yang diusahakan oleh kaum 'Aad, maka mereka tetap tidak bisa kekal

Tidak pula Nabi Sulaiman AS saat angin bertiup untuknya
Sedang jin dan manusia datang di antaranya

Di manakah para raja yang karena kebesarannya
Setiap utusan datang kepadanya dari setiap penjuru?

Telaga yang ada di sana pasti akan didatangi, bukan dusta

Suatu hari pasti mendatanginya, sebagaimana diriwayatkan

Apabila sudah jelas keterangan di atas, ketahuilah bahwa mengingat mati mewariskan rasa gelisah terhadap dunia yang fana ini dan setiap saat memusatkan fikiran ke negeri akhirat yang kekal abadi. Kemudian, setiap manusia  tidak terlepas dari dua sisi kehidupan: kesempitan hidup dan keluasan, nikmat dan cobaan. 

Maka jika ia berada dalam kesempitan dan cobaan, mengingat kematian memudahkan dia menghadapi semua itu. Sesungguhnya ia tidak kekal dan kematian lebih susah dari hal itu, atau di saat kenikmatan dan keluasan, maka mengingat mati menghalangi dia dari terperdaya dengannya dan cenderung kepadanya, karena ingat mati memutuskannya dari semua kenikmatan itu. Alangkah indahkan orang yang berkata:

 Ingatlah kematian yang meruntuhkan kenikmatan
Dan persiapkan untuk kematian yang pasti akan tiba

Yang lain berkata:

Dan ingatlah kematian niscaya engkau mendapatkan ketenangan
Dalam mengingat kematian memutuskan angan-angan.

Semua umat sepakat (konsensus) bahwa kematian tidak mempunyai batasan umur yang diketahui dan tidak pula zaman yang diketahui, agar seseorang menyiapkan diri menghadapi hal itu. Sebagian orang shalih berseru di malam hari di pinggiran kota Madinah: Berangkat, berangkat. Maka tatkala ia wafat, amir (gubernur) kota Madinah bertanya tentang dia, maka dikabarkan bahwa ia telah meninggal dunia, maka amir itu berkata berkata:

Senantiasa ia melantunkan keberangkatan dan mengingatkannya
Sehingga unta berhenti di depan pintunya
Maka ia terjaga, bersungguh-sungguh
Bersiap-siap, tidak terlalaikan oleh angan-angan.

Yazid ar-Raqqasy rahimahullah berkata kepada dirinya sendiri: 'Celakalah engkau wahai Yazid, siapakah yang menshalatkan engkau setelah meninggal dunia? Siapakah yang menggantikan puasa engkau setelah mati? Siapakah yang memohon keridhaan Rabb untukmu setelah engkau wafat? Kemudian ia berkata, 'Wahai manusia, apakah engkau tidak menangisi dan meratapi dirimu sendiri di hari-harimu yang masih tersisa? Siapa yang kematian mencarinya, kubur sebagai rumahnya, tanah sebagai kasurnya, ulat sebagai temannya, di samping itu ia sedang menunggu kejutan terbesar, bagaimanakah keadaannya?' Kemudian ia menangis sehingga jatuh pingsan.

At-Taimi rahimahullah berkata, 'Dua perkara yang memutuskan kenikmatan dunia dariku: Mengingat mati dan mengingat posisi saat berada di hadapan Allah SWT.' Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan mati, hari kiamat dan akhirat, lalu mereka menangis sehingga seolah-olah di hadapan mereka ada jenazah.

Abu Nu'aim rahimahullah berkata: Apabila Sufyan ats-Tsauri rahimahullah diingatkan mati, tidak bisa diambil manfaat dengannya selama beberapa hari (maksudnya: ia tidak bisa mengajar). Jika ia ditanya tentang suatu masalah, ia berkata: Aku tidak tahu, aku tidak tahu.' Asbath rahimahullah berkata: Seorang laki-laki dipuji-puji di hadapan Nabi , maka Rasulullah SAW bertanya: "Bagaimana ingatnya terhadap mati?' Maka hal itu tidak disebutkan darinya. Maka beliau bersabda: 'Dia tidak seperti yang kamu katakan."

Ad-Daqqaq rahimahullah berkata: Barangsiapa yang benyak mengingat mati, ia diberi kemuliaan dengan tiga perkara: Segera bertaubat, hati bersifat qana'ah, dan rajin dalam beribadah. Dan barangsiapa yang lupa terhadap mati, ia disiksa dengan tiga perkara: menunda-nunda taubat, tidak ridha dengan menahan diri dari meminta, dan malas dalam ibadah. Maka pikirkanlah -wahai yang terperdaya- tentang mati dan saat sakaratul maut, berat dan pahitnya. Wahai kematian, sebuah janji yang pasti benar dan hakim yang sangat adil. Cukuplah kematian yang melukai hati, membuat mata menangis, memisahkan kelompok, menghancurkan kenikmatan, dan memutuskan angan-angan. Apakah engkau sudah memikirkan wahai keturunan Adam di hari kematianmu, berpindahmu dari tempatmu. Dan apabila engkau telah dipindah dari tempat yang luas ke tempat yang sempit, sahabat dan rekanmu mengkhianatimu, saudara dan temanmu meninggalkanmu, dan mereka menutupimu dengan tanah setelah sebelumnya engkau diselimuti kain yang lembut. Wahai yang mengumpulkan harta dan bersungguh-sungguh dalam bangunan, tidak ada sesuatu pun untukmu selain kain kafan. Bahkan demi Allah hanya untuk kehancuran dan sirna, dan tubuhmu untuk tanah dan tempat kembali. Maka di manakah harta yang engkau kumpulkan? Apakah bisa menyelamatkan engkau dari huru hara? Sama sekali tidak, bahwa engkau meninggalkannya kepada orang yang tidak memujimu, engkau memberikan dengan dosa-dosamu kepada orang yang tidak memaafkanmu.

Alangkah indahnya orang yang berkata dalam firman Allah SAW:

وَابْتَغِ فِيمَآءَاتَاكَ اللهُ الدَّارَ الآخرة

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, (QS. al-Qashash:77)

Maksudnya Wallahu A'lam-: carilah di dalam dunia yang diberikan Allah SWT kepadamu untuk negeri akhirat, yaitu surga. Maka sesungguhnya hak seorang mukmin bahwa ia memalingkan dunia untuk yang berguna di akhirat, bukan pada tanah, air, tindakan sombong dan zalim. Seolah-olah mereka berkata: Jangan lupa bahwa engkau akan meninggalkan semua hartamu kecuali untuk kafan yang menjadi jatahmu. Dan seperti inilah ungkapan seorang penyair:

 Jatahmu dari semua yang engkau kumpulkan
Dua selendang yang dilipat dan pengawet

Dan yang lain berkata:

Ia adalah sifat qana'ah yang engkau tidak perlu mencari gantinya
Mengandung kenikmatan dan ketenangan badan
Perhatikanlah kepada orang yang memiliki semua dunia
Apakah ia merasakan ketenangan darinya selain dengan kapas dan kafan?

     Syaddad bin Aus RA berkata, 'Rasulullah SAW bersabda:

اَلكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نْفْسهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

"Orang yang cerdas adalah yang menghitung dirinya dan beramal untuk masa setelah mati, dan orang yang lemah adalah yang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah SWT."[v]

Abu Ubaid rahimahullah berkata, 'Maksudnya: menghinakannya dan memperbudaknya, maka ia menghinakan dirinya dalam beribadah kepada Allah SWT, sebagai amal ibadah yang dipersiapkannya setelah mati dan untuk bertemu Allah SWT. Dia juga menghisab dirinya terhadap amal perbuatannya di masa lalu, menggantikannya dengan amal shalihnya sebagai penebus kesalahannya yang telah berlalu. Dia berzikir kepada Allah SWT dan taat kepada-Nya di segala tingkah lakunya. Inilah bekal sebenarnya untuk hari kembali. Dan orang yang lemah adalah orang kekurangan dalam semua perkara. Di samping kekurangannya dalam ibadah kepada Rabb-nya dan mengikuti hawa nafsunya, dia masih berangan-angan kepada Allah SWT agar mengampuninya. Inilah orang yang terperdaya. Sesungguhnya Allah SWT menyuruh dan melarangnya.

Al-Hasan al-Bashari berkata: Sesungguhnya suatu kaum dilalaikan oleh angan-angan, sehingga ia keluar dari dunia tanpa mempunyai amal kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata: Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabb-ku. Dia bohong, jika ia benar-benar berbaik sangka (husnuzh-zhann) tentu ia memperbaiki amal perbuatan, dan ia membaca firman Allah SWT:

وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ

Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Fuhshilat:23)
       
Sa'id bin Jubair rahimahullah berkata: Terperdaya dengan Allah SWT bahwa seseorang terus menerus melakukan maksiat dan berangan-angan mendapat ampunan Allah SWT.

Baqiyyah bin al-Walid rahimahullah berkata: Abu 'Umair rahimahullah menulis kepada sebagian saudara-saudaranya: 'Amma ba'du, sesungguhnya engkau menjadi berharap banyak kepada dunia dengan panjangnya usiamu dan berangan-angan kepada Allah SWT dengan buruknya perbuatanmu. Sesungguhnya engkau hanyalah memukul besi yang dingin. Wassalam.'
Wallahu A'lam.


Dikutip dari kitab:
المرجع: التذكرة في أحوال الموتى وأمور الآخرة للإمام القرطبي ، دار الحديث - القاهرة تحقيق عصام الدين الصبابطي، ط 1 -1424هـ

at-Tadzkiran fi ahwalil mauta wa umuril akhirah (Peringatan tentang kondisi orang-orang yang mati dan keadaan akhirat), bab: Dzikrul maut wal isti'dad lahu (mengingat mati dan menyiapkan diri untuknya).
_____________________________________________________________
[i] Ali 'Imran 185.
[ii] HR. an-Nasa`i 4/4, at-Tirmidzi 2307, Ibnu Hibban 2992, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah (3434).
[iii] HR. Ibnu Majah (4259) dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani.
[iv]  Penguasa Persia di masa itu, yaitu  negera Iran di masa sekarang. Hurmuz ini mempunyai kekayaan yang tidak terhingga pada masa itu.
[v] HR. at-Tirmidzi (2459) dan ia menyatakan hadits hasan. Dan ia berkata: maksud sabda beliau: menghitung dirinya: yaitu menghitung/menghisab dirinya semasa di dunia sebelum dihisab di hari qiyamat. Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah (4260) dan didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani.