Al Qur'an

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَ ةَ وَ أْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَ انْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ اصْبِرْ عَلَى مَا أَصَا بَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور [لقمان/17]

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukmaan (31) : 71

SILAHKAN DISEBARKAN

SILAHKAN DIPERBANYAK / DISEBARKAN DENGAN COPY PASTE ASAL SEBUTKAN SUMBERNYA, TERIMA KASIH

Minggu, 14 Agustus 2011

Renungan Bulan Ramadhan



Tafakur Sesaat Semoga berkah[1]

Sahabat-sahabat yang dimuliakan Allah Shubhanahu wa ta’alla, hidup yang hanya sekali ini tidak boleh gagal, tidak boleh layu sebelum berkembang, tidak boleh merasa menjadi orang yang terpinggirkan, apalagi menyalahkan keadaan dan diri kita sendiri. Marilah kita merenung dan bertadabur dalam bulan Ramadhan yang penuh berkah dan penuh aroma syurgawi ini dengan ayat-ayat ilahi.

Kehidupan yang diberikan Allah Shubhanahu wa ta’alla  ini telah dianugrahkan kepada kita lengkap satu paket, ada tawa canda dan duka nestapa, ada senyum riang dan sedu sedan kesedihan, ada kegelisahan dan kecemasan yang menyertai, tetapi ada juga ketenangan dan ketabahan mengimbanginya.

Kehidupan ini juga dipenuhi dengan perhiasan yang memabukkan jiwa dan fikiran sehingga melupakan Allah Shubhanahu wa ta’alla, tetapi ada juga perhiasan yang menambah indah pesona jiwa, fikiran dan akhlak kita sehingga menjadi manusia yang bermanfaat dalam setiap tarikan  nafasnya.

Terkadang kitapun terbuai dengan aroma harta, tahta dan wanita, sehingga lupa kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, tetapi terkadang kitapun tersadar dari mabuknya dengan sesadar-sadarnya dan akhirnya merasakan kembali belaian aroma iman dan takwa karena merindukan Sang Pencipta yang membelai setiap rasa dan asa kita.

Renungan ini marilah kita mulai dengan bersahaja, dengan mencermati surat-surat cinta sang maha pencipta, dengan menyelami setiap getaran kata-kataNya, dengan mendalami setiap butiran tetes hidayahNya, dengan memahami makna yang terkandung didalamnya untuk kita taburkan dalam relung jiwa yang paling dalam, sehingga menghasilkan keyakinan yang kuat bahwa : HIDUP ITU INDAH,....HIDUP ITU BERSERI PENUH WARNA,...WALAU BADAI DATANG SILIH BERGANTI,......TAPI JIWA SENANTIASA BERSANDAR DAN BERLINDUNG KEPADA SANG PENGUASA,.... PEMILIK DAN PENGATUR ALAM JAGAT RAYA......


Pertama : Marilah kita hiasi hidup dengan bertawakal kepadaNYA. Sebab segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla yang telah menjanjikan dan mencukupkan  orang-orang  yang selalu bertawakkal kepadaNya:

قال الله تعالى: {وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا} [الطلاق: 3]
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) -Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS. Al Thalaq: 3)


Kedua : marilah dengan penuh keikhlasan, kita serahkan segala urusan kita kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla  saja, barangsiapa yang menyerahkan segala urusannya kepada  Allah Shubhanahu wa ta’alla  maka dia akan benar dan diberikan petunjuk:
قال الله تعالى: {وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ} [غافر: 44]
Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya". (QS. Gafir: 44)


Ketiga : Marilah kita memohon perlindungan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dari segala marabahaya kehidupan di dunia, marabahaya kehidupan iman dan takwa dari godaan hawa nafsu dan syetan, marabahaya kehidupan dunia maya dengan aneka bacaan dan tontonan yang haram dan syubhat, barangsiapa yang menjaga diri dengan perlindungan Allah Shubhanahu wa ta’alla maka Dia pasti menjaga dan melindunginya :
قال الله تعالى: {فَاللّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ} [يوسف: 64]
Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf: 64)


Keempat :  Marilah kita hiasi kehidupan yang penuh jebakan ini dengan tetap berada pada jalur ketaatan yang berpegang teguh kepada kitab Allah Subhanahu wa ta’alla  dan sunnah RasulNya, maka barangsiapa yang berpegang teguh dengan kitab Allah Subhanahu wa ta’alla  dan sunnah RasulNya maka dia akan mendapat petunjuk dan menjadikannya sebagai kekasih, dan membuat hidup didunia penuh perdamaian diantara sesama manusia :

قال الله تعالى : { وَ اعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَ لاَ  تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا  نِعْمَةَ  اللَّهِ عَلَيْكُمْ  إِذْ  كُنْتُمْ  أَعْدَاءً  فَأَ لَّفَ بَيْنَ  قُلُو بِكُمْ  فَأَصْبَحْتُمْ  بِنِعْمَتِهِ  إِخْوَ ا نًا  وَكُنْتُمْ  عَلَى شَفَا حُفْرَ ةٍ  مِنَ  النَّارِ  فَأَنْقَذَكُمْ  مِنْهَا كَذَلِكَ  يُبَيِّنُ  اللَّهُ  لَكُمْ  آَيَاتِهِ  لَعَلَّكُمْ  تَهْتَدُونَ}  [آل عمران/103]
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah Mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah Menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah Menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.  (QS Ali Imran : 103)
قال الله تعالى: {أَمَّن  يُجِيبُ  الْمُضْطَرَّ  إِذَا دَعَاهُ وَ  يَكْشِفُ  السُّوءَ وَ  يَجْعَلُكُمْ خُلَفَاء اْلأَرْضِ أَإِلَهٌ  مَّعَ  اللَّهِ  قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ} [النمل: 62]
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya). (QS. Al Naml: 62)


Kelima : Marilah kita memohon ampunan atas segala tingkah laku kita, betapa sedikitnya kita memuji Allah Shubhanahu wa ta’alla, mengingatNya dan mengagungkanNya, marilah kita memohon ampunan dan bertaubat kepadaNya, dan barangsiapa yang datang kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla  untuk bertaubat kepadaNya maka Dia akan menerima taubat hamba tersebut, dan barangsiapa yang mendatangi pintu-pintu Allah Shubhanahu wa ta’alla  dengan penuh penyesalan maka hendaklah dia mendekat kepadaNya, supaya tergolong orang yang bersyukur dan beriman, sehingga terlepas dari murkaNya:
قال الله تعالى: {مَّا يَفْعَلُ اللّهُ  بِعَذَابِكُمْ  إِن شَكَرْ تُمْ وَ آمَنتُمْ وَ كَانَ اللّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا} [النساء: 147]
Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.  (QS. Al-Nisa’: 147)

Maha Suci Allah Shubhanahu wa ta’alla , yang selalu turun pada setiap malam ke langit dunia, Dia (Allah Subhanahu wa ta’alla) menyeru para hamba-Nya, bagi orang yang bertaubat maka Aku (Allah Subhanahu wa ta’alla) akan menganugerahkan taubat kepadanya, untuk orang yang memohon ampunan maka  Aku (Allah Subhanahu wa ta’alla) akan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Dan marilah kita bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya selain Allah Subhanahu wa ta’alla  , Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, tiada yang berhak disembah selain Dia, dengan kesaksian yang kita simpan sampai diri kita bertemu denganNya:
قال الله تعالى: {مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاء بِالسَّيِّئَةِ فَلاَ يُجْزَى إِلاَّ مِثْلَهَا وَهُمْ لاَ يُظْلَمُونَ} [الأنعام: 160]
Barang siapa membawa amal  kebaikan maka baginya (pahala)sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al An’am: 160).


Keenam : Marilah kita bersaksi bahwa Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam adalah hamba dan utusanNya, yang telah dipilih dan diistimewakanNya, maka beliau adalah orang yang paling baik dalam menyembah Allah Shubhanahu wa ta’alla  dan paling mengetahui jalan yang lurus. Beliau tidak pernah sekali-kali menyembah tuhan selain Allah Shubhanahu wa ta’alla, Ya Allah curahkanlah shalawat dan salam kepadanya, kepada para keluarga dan para shahabat beliau, yaitu shalawat yang memenuhi seisi langit dan bumi.
قال الله تعالى: {لَقَدْ  كَانَ  لَكُمْ  فِي  رَسُولِ  اللَّهِ  أُسْوَ ةٌ  حَسَنَةٌ  لِمَنْ  كَانَ  يَرْجُو اللَّهَ وَ الْيَوْمَ  اْلآَخِرَ وَ ذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}  [الأحزاب/21]
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (QS Al Ahzab : 21)
 قال الله تعالى: {إِ نَّا  أَخْلَصْنَاهُمْ  بِخَالِصَةٍ  ذِكْرَى الدَّارِ} [ص/46]
Sungguh, Kami telah Menyucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang tinggi kepadanya yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.(QS. Shad : 46)
 قال الله تعالى: { وَ إِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ } [القلم/4]
Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar, berbudi pekerti yang luhur. (QS. Al Qolam : 4)
 قال الله تعالى: {إِنَّ  اللَّهَ  وَ مَلاَ ئِكَتَهُ  يُصَلُّونَ  عَلَى  النَّبِيِّ  يَا أَ يُّهَا  الَّذِينَ  آَمَنُوا  صَلُّوا  عَلَيْهِ  وَ سَلِّمُوا  تَسْلِيمًا} [الأحزاب/56]
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.[2] Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.[3]


Ketujuh :  Wahai sahabat-sahabat sekalian, marilah kita berusaha untuk selalu bertaqwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla , itulah wasiat dari Rasulullah Shalallahu’alihi wa sallam yang paling agung, dan sekali lagi mari kita berpegang teguh dengan kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla  , Tuhan kita dan sunnah Nabi kita, sebab berpegang teguh pada keduanya adalah ikatan yang paling kuat dan jangan saling berbantahan (bersilang pendapat) sehingga kita menjadi lemah, dan bersabarlah dalam menghadapi segala hal, karena Allah Shubhanahu wa ta’alla  selalu menyertai orang-orang yang bersabar :
قال الله تعالى: {لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ} [البقرة: 256]
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.. (Qs. Al Baqarah: 256)

قال الله تعالى: {وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ} [آل عمران: 103]
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. (QS. Ali Imron: 103)

قال الله تعالى: {وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [الأنفال: 46]
“dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS. Al Anfal: 46)



Kedelapan : marilah kita semua sekuat mungkin waspada dan meninggalkan perbuatan dosa, dan sungguh sangat merugi orang yang berbuat kezaliman, dan janganlah diri kita terlalu berani terhadap Allah Shubhanahu wa ta’alla  Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dengan meninggalkan segala perintahNya dan melanggar apa-apa yang dilarangNya baik dalam keadaan lupa atau sengaja, sehingga mengakibatkan diri kita dilupakan dan diabaikan  oleh Zat Penolong kita, sebab Dia telah mendatangkan ayat-ayatNya kepada kita sehingga kita berhak dilupakan dan diabaikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla  dan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disebutkan di dalam firmanNya, Naudzubillahi min dzalika:

قال الله تعالى: {قَالَ  رَبِّ  لِمَ  حَشَرْتَنِي  أَعْمَى  وَ قَدْ  كُنتُ  بَصِيرًا  قَالَ  كَذَلِكَ أَتَتْكَ  آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَ  كَذَلِكَ الْيَوْمَ  تُنسَى  وَ كَذَلِكَ  نَجْزِي  مَنْ  أَسْرَفَ  وَ لَمْ  يُؤْ مِن  بِآيَاتِ  رَ بِّهِ وَ لَعَذَابُ  اْلآخِرَ ةِ  أَشَدُّ وَ أَ بْقَى} [طه: 125- 127]
Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal". (QS. Thaha: 125-127)


Kesembilan : Wahai sahabat-sahabat yang saling mencintai karena Allah. Hendaklah kita menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar karena kita hidup di zaman orang-orang yang menangguhkan dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Dan jika kita tidak melakukannya yaitu tidak menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar maka akan mengakibatkan kehancuran sebuah negeri yang sebelumnya makmur dan hal tersebut telah kita ketahui, banyak kaum yang telah disiksa oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla  karena kezaliman dan jauhnya mereka dariNya, dan orang-orang yang baikpun terkena getahnya :

قال الله تعالى: {وَمَا ظَلَمَهُمُ اللّهُ وَلـكِن كَانُواْ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ} [النحل: 33]
Dan Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang selalu menganiaya diri mereka sendiri.  (QS. Al-Nahl: 33)

قال الله تعالى: {وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ} [القصص: 59]
Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (QS. Al-Qososh: 59).
قال الله تعالى: {وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنَ الْقُرُونِ مِن بَعْدِ نُوحٍ وَكَفَى بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًَا بَصِيرًا} [الإسراء: 16، 17]
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan (kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah, tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba -Nya. (QS. Al-Isro’: 16-17).

رياض الصالحين -  زكريا  يحيى  بن  شرف  بن  مرّي  النووي - (ج 1 / ص 147)  :   عن  النعمان  بن  بشير  رضي  الله  عنهما ،  عن  النَّبيّ -  صلى  الله  عليه  و سلم - ،  قَالَ  ) مَثَلُ القَائِمِ  فيِ  حُدُودِ  اللهِ  وَ  الوَ اقِعِ   فِيهَا ،  كَمَثَلِ  قَومٍ   اسْـتَهَمُوا  عَلَى  سَفِينَةٍ   فَصَارَ   بَعْضُهُمْ  أَعْلاَ هَا  وَ  بَعْضُهُمْ   أَسْفَـلَـهَا ، وَ كَانَ  الَّذِينَ   فيِ   أَسْفَلِهَا  إِذَ ا اسْـتَقَوا  مِنَ  اْلمَاءِ  مَرُّوا  عَلَى  مَنْ  فَوْ قُـهُمْ ،  فَقَالُوا :  لَوْ  أَ نَّا  خَرَقْنَا  فيِ   نَصِيْـبِنَا خَرْقاً  وَ  لَمْ   نُؤذِ مَنْ  فَوقَنَا ، فَإِنْ   تَرَكُوهُمْ   وَ  مَا  أَرَ ادُوا  هَلَكُوا  جَمِيْعاً ، وَ  إنْ  أَخَذُوا  عَلَى  أَ يْدِ يْـهِمْ   نَجَوا وَ  نَجَوْا  جَميعاً (  رواه البخاري .
Dari Nu'man bin Basyir t, dari Nabi r, beliau bersabda : "Perumpamaan orang yang melaksanakan hukum-hukum Allah I dan orang-orang yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menaiki sebuah kapal dengan mengundi, sehingga sebagian mereka ada yang tinggal di bagian atas dan sebagian lainnya berada dibagian bawah. Jika orang-orang yang berada dibagian bawah membutuhkan air, maka mereka harus melewati orang-orang yang diatasnya. Lalu mereka berkata : "Seandainya kami membuat lubang pada bagian kami, dan tidak mengganggu orang-orang yang diatas kami". Jika mereka membiarkan apa yang dikehendaki orang-orang dibawah, niscaya mereka semua akan binasa, tetapi jika mereka mencegah perbuatan itu, niscaya mereka selamat dan semua akan selamat".

Di antara dosa besar adalah meremehkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan Nabi Muhammad shallallau alaihi wa sallam bersabda, "Sungguh hendaklah kalian menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar atau Allah Shubhanahu wa ta’alla  akan menguasakan kepada kalian penguasa yang zalim, tidak menghormati yang besar dan tidak menyayangi yang kecil, lalu orang terbaik di antara kalian berdo’a kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla  namun do’anya tidak diperkenankan, lalu kalian meminta pertolongan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla  namun kalian tidak diberikan pertolongan -Nya”.

Bagaimana Allah Subhanahu wa ta’alla  akan menolong mereka dan memperkenankan do’a mereka sebab Dia telah menegaskan makna ini di dalam kitab -Nya:
قال الله تعالى: {وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal: 25).

Di dalam sebuah hadits di dalam riwayat Abu Dawud  bahwa Nabi Muhammad shallallau alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya jika suatu masyarakat telah melihat orang yang berlaku zalim tapi mereka tidak mencegahnya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla  akan menimpakan siksa kepada mereka semua.


Kesepuluh : Wahai sahabat yang dicintai Allah Shubhanahu wa ta’alla, ketahuilah bahwa perkara ini sangat berbahaya sedangkan umur manusia itu sangat singkat, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla  yang Maha Melihat, serta Maha mengetahui perkara yang terang dan yang tersembunyi, maka barangsiapa yang menghendaki keselamatan pada hari pembalasan maka hendaklah kita bertaubat dengan taubat yang sebenarnya, dan barangsiapa yang menghendaki keteguhan saat menghadapi kematian dan keselamatan setelah kematian maka hendaklah kita berbuat untuk kepentingan hari akheratnya. Allah Ta’ala berfirman:
قال الله تعالى: {تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ} [القصص: 83]
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.(QS. Al-Qososh: 83).


Kesebelas : Sahabat yang dimuliakan Allah, bekal yang terindah adalah ketakwaan, yang membuat derajat kita dimuliakan dialngit dan bumi. Barangsiapa yang selalu bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’alla  maka sungguh dia telah  berpegang teguh dengan salah satu faktor yang menyebabkan kemaslahatan, dan barangsiapa yang dilalaikan oleh kepentingan dunia dari taat kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla  maka dia telah menghina agamanya, dan barangsiapa yang merasa aman dari siksa Allah Shubhanahu wa ta’alla  maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata. Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: { وَ لَوْ  أَنَّ  أَهْلَ  الْقُرَى  آَمَنُوا وَ اتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ  مِنَ  السَّمَاءِ وَ اْلأَرْضِ  وَ لَكِنْ كَذَّ بُوا  فَأَخَذْ نَاهُمْ  بِمَا  كَا نُوا يَكْسِبُونَ (96) أَفَأَمِنَ أَهْلُ  الْقُرَى  أَنْ  يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَ هُمْ  نَائِمُونَ (97) أَوَ أَمِنَ  أَهْلُ  الْقُرَى  أَنْ  يَأْتِيَهُمْ  بَأْسُنَا  ضُحًى  وَ هُمْ  يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ  فَلاَ  يَأْمَنُ  مَكْرَ اللَّهِ  إِلاَّ  الْقَوْمُ  الْخَاسِرُونَ (99) } [الأعراف: 96- 99]
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami itu(, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu mata hari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah Subhanahu wa ta’alla  (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’rof: 96-99).


Keduabelas : Sahabat-sahabat yang dicintai Allah Subhanahu wa ta’alla, marilah kita bersama-sama memulai untuk belajar takut kepadaNya, dan mulai memperhatikan dengan seksama perintah dan larangan Allah Shubhanahu wa ta’alla, serta mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu dan mengambil ibrah dari perjalanan hidup mereka:

قال الله تعالى: {وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [آل عمران: 132]
“Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.”. (QS. Ali Imron: 132).

قال الله تعالى : {فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ} [لقمان: 33]
Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah Subhanahu wa ta’alla  (QS. Luqman: 33).

Sehingga kita semua tidak termasuk golongan orang-orang yang telah difirmankan oleh Allah:

قال الله تعالى: {أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا} [الفرقان: 44]
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS. Al-Furqon: 44).

Atau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’alla  di dalam firman -Nya:

قال الله تعالى: { إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (23)} [الأنفال: 22، 23]
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah Subhanahu wa ta’alla  ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun. Kalau kiranya Allah Subhanahu wa ta’alla  mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah Subhanahu wa ta’alla  menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah Subhanahu wa ta’alla  menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). (QS. Al Anfal: 22-23).

Semoga Allah Subhanahu wa ta’alla  memberikan keberkahannya bagi kita semua dengan memahami Al-Qur’an yang mulia, dan Allah Subhanahu wa ta’alla  memberikan manfaat bagi kita semua dengan ayat-ayat –Nya Yang Maha Bijaksana yang tertera di dalamnya. Hanya inilah yang bisa saya sampaikan dan aku memohon ampunan bagi diriku dan bagi sahabat serta seluruh kaum muslimin kepada Allah Subhanahu wa ta’alla yang Maha Mulia dari segala dosa.


[1]  Rujukan catatan nasehat Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir

[2] Selawat dari Allah berarti memberi rahmat; dari malaikat memohonkan ampunan dan kalau dari orang-orang Mukmin berarti berdoa agar diberi rahmat, seperti dengan perkataan, “Allāhumma shalli ’alā Muhammad”.
[3] Dengan mengucapkan perkataan seperti “Assalāmu’alaika ayyuhan nabi”, artinya semoga keselamatan kepadamu wahai Nabi.