Al Qur'an

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَ ةَ وَ أْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَ انْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ اصْبِرْ عَلَى مَا أَصَا بَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور [لقمان/17]

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukmaan (31) : 71

SILAHKAN DISEBARKAN

SILAHKAN DIPERBANYAK / DISEBARKAN DENGAN COPY PASTE ASAL SEBUTKAN SUMBERNYA, TERIMA KASIH

Selasa, 09 Agustus 2011

Berbakti kepada Orangtua dan Konflik dengan mereka




Orang tua adalah orang yang dituakan oleh kita karena mereka adalah orang yang pertama membimbing, mendidik dan membesarkan kita dengan segala kasih sayangnya, dan orang tua yang shaleh mencurahkan semuanya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan imbalan apapun selain melihat anaknya menjadi orang yang lurus, sukses dan bahagia serta berguna bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya.

Walaupun demikian ada perbedaan sifat dan karakter yang terkadang berbenturan dengan kita, hal inilah yang patut kita sesuaikan, kita maklumi, bahkan kita dituntut untuk bisa mengimbangi dengan penuh kelembutan dan flexible terhadap sifat dan karakter mereka, sehingga mereka tidak tersinggung dan merasa tidak dihormati.

Kepiawaian kita dalam melayani sifat dan karakter yang berbenturan dengan mereka dengan sepenuh hati tanpa ada rasa sakit hati dan benci, sebaliknya menyayangi dan mengasihi apapun kelebihan dan kekurangan sifat orang tua, maka inilah yang disebutkan Allah dengan berbakti kepada orang tua. 

Hal ini berlaku pula jika kita telah mempunyai mertua merekapun adalah orang tua kita yang patut kita kasih sayangi karena tali perkawinan yang terjadi.

Kita lihat beberapa nasihat Allah I dalam firmannya tentang orang tua.

لاَ  تَعْبُدُونَ  إِلاَّ  اللَّهَ  وَ  بِالْوَ الِدَ يْنِ  إِحْسَانًا  وَ ذِي  الْقُرْ بَى وَ الْيَتَامَى وَ الْمَسَاكِينِ  وَ قُولُوا  لِلنَّاسِ  حُسْنًا  وَ  أَقِيمُوا  الصَّلاَ ةَ  وَ  آَ تُوا  الزَّ  كَاةَ   [البقرة/83]

“Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat yang terbaiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”

وَ اعْبُدُوا  اللَّهَ  وَ لاَ  تُشْرِكُوا  بِهِ  شَيْئًا  وَ  بِا لْوَ الِدَ يْنِ  إِحْسَا نًا  وَ  بِذِي  الْقُرْ بَى  وَ الْيَتَامَى  وَ  الْمَسَاكِينِ  وَ  الْجَارِ  ذِي الْقُرْ بَى وَ  الْجَارِ  الْجُنُبِ وَ الصَّاحِبِ   بِالْجَنْبِ  وَ  ابْنِ  السَّبِيلِ  وَ  مَا  مَلَكَتْ  أَ يْمَا  نُكُمْ  إِنَّ  اللَّهَ  لاَ يُحِبُّ  مَنْ   كَانَ  مُخْتَالاً   فَخُورًا [النساء/36]

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh [1], teman sejawat, ibnu sabil [2] dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.

وَ وَ صَّـيْنَا  اْلإِ نْسَانَ   بِوَ  الِدَ يْهِ   إِحْسَا نًا  حَمَلَـتْهُ  أُ مُّهُ   كُرْهًا  وَ وَ ضَعَتْهُ  كُرْهًا  وَ حَمْلُهُ  وَ  فِصَالُهُ  ثَلاَ  ثُونَ  شَهْرً ا حَـتَّى  إِذَ ا  بَلَـغَ  أَشُدَّ هُ  وَ  بَلَـغَ   أَرْ بَعِينَ  سَنَةً  قَالَ  رَبِّ  أَوْزِعْنِي  أَنْ  أَشْكُرَ   نِعْمَتَكَ   الَّتِي  أَ  نْعَمْتَ  عَلَيَّ  وَ  عَلَى وَ  الِدَ يَّ  وَ  أَنْ   أَعْمَلَ  صَالِحًا  تَرْضَاهُ  وَ  أَصْلِحْ   لِي   فِي  ذُرّ ِيَّتِي  إِ نِّي  تُبْتُ  إِلَيْكَ وَ  إِ نِّي  مِنَ  الْمُسْلِمِينَ [الأحقاف/15]

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat yang terbaik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

وَ وَ صَّيْنَا  اْلإِ نْسَانَ   بِوَ الِدَ يْهِ  حَمَلَـتْهُ  أُمُّهُ  وَهْـنًا  عَلَى  وَهْنٍ  وَ  فِصَالُهُ  فِي عَامَيْنِ  أَنِ  اشْكُرْ  لِي  وَ  لِوَ الِدَ يْكَ   إِلَيَّ الْمَصِيرُ  [لقمان/14]

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat yang terbaik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

وَ قَضَى رَ بُّكَ   أَ لاَّ  تَعْبُدُوا  إِلاَّ  إِ يَّاهُ  وَ  بِالْوَ الِدَ يْنِ  إِحْسَا نًا  إِمَّا  يَبْلُغَنَّ  عِنْدَ كَ  الْكِبَرَ  أَحَدُهُمَا أَوْ  كِلاَ  هُمَا  فَلاَ   تَقُلْ  لَهُمَا  أُفٍّ  وَ  لاَ   تَنْهَرْهُمَا وَ  قُلْ  لَهُمَا  قَوْلاً    كَرِيمًا (23) وَ اخْفِضْ  لَهُمَا جَنَاحَ   الذُّلِّ  مِنَ  الرَّحْمَةِ  وَ قُلْ  رَبِّ  ارْحَمْهُمَا  كَمَا  رَ بَّيَانِي  صَغِيرًا (24) [الإسراء/23، 24]

Dan Tuhan-mu telah Memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat yang terbaik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.[3] (23) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(24)

وَ وَصَّيْنَا اْلإِ نْسَانَ  بِوَ الِدَ يْهِ  حُسْنًا  وَ  إِنْ  جَاهَدَاكَ   لِتُشْرِكَ  بِي  مَا   لَيْسَ   لَكَ   بِهِ  عِلْمٌ  فَلاَ تُطِعْهُمَا  إِلَيَّ   مَرْجِعُكُمْ  فَأُ نَبِّئُكُمْ  بِمَا  كُنْتُمْ  تَعْمَلُونَ [العنكبوت/8]

Dan Kami Wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada- Ku tempat kembalimu, dan akan Aku Beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Dari ayat-ayat diatas jelas sekali kedudukan orang tua ternyata setelah Allah I, begitu tinggi kedudukan mereka, dikarenakan jasa-jasa mereka yang membesarkan kita tanpa pamrih, bahkan mendidik dan mengurus kita dengan segala daya upayanya yang penuh kasih dan sayang, sampai kitapun dilarang oleh Allah I mengucapkan kata-kata walaupun itu hanya ucapan "Ah", "Cis", "Aduh" atau ucapan yang sejenisnya, apalagi dengan perkataan yang lebih dari itu maka sungguh telah melawan orang tua dan jauh dari berbakti.

Hargailah dan hormati mereka walaupun mungkin saat ini kita lebih pandai dari segi ilmu dunia maupun ilmu agama, bahkan mungkin lebih tinggi dari status sosialnya karena harta dan pangkat serta jabatan kita.

Kebaikan dan keutamaan kita saat ini,  itu semata-mata karena ijin Allah I dan doa-doa mereka atas kita. Patutkah kita menjelekkan dan kesal kepada mereka walaupun kekesalan itu tidak tampak pada raut wajah kita, tapi terpendam dalam hati kita.

Sungguh mereka lebih banyak jasanya kepada kita, dan mereka tidak pernah membenci kita dengan segala kenakalan dan kebandelan kita yang terkadang membuat mereka pusing dan puyeng. 

Apabila ada konflik dengan mereka hadapi dengan ikhlas, sadari dengan ridha, hadapi dengan kasih sayang dan penuh keshabaran dan mohon pertolongan kepada Allah agar diberikan jalan keluar yang terbaik, tetapi masih tetap dalam koridor tetap berbakti kepada mereka.

Kita lihat pula beberapa hadits dari Rasulullah r tentang orang tua :

سنن الترمذي   و  سنن  ابن  ماجه  و مسند أحمد  :  )  الْوَ الِدُ   أَوْسَطُ    أَ بْوَ ابِ   الْجَنَّةِ   فَإِنْ  شِئْتَ   فَأَضِعْ   ذَلِكَ   الْبَابَ   أَوْ   اِحْفَظْهُ (

Dari Abu Darda t, ia berkata , "Aku mendengar Rasulullah r bersabda, 'Orang tua (ayah/ibu) adalah tengah-tengahnya pintu dari pintu-pintu syurga. Maka dipersilahkan sesuai kehendakmu jika engkau mau menghilangkan pintu itu (dengan durhaka kepadanya) atau jagalah pintu itu (dengan berbakti kepadanya)".

Jika kita masih butuh syurga jagalah mereka lahir dan bathinya, berbuatlah yang terbaik selagi mereka masih ada, layani dengan pelayanan yang tulus ikhlas, jika ada konflik dengan mereka berbicara dan berundinglah dengan cara yang ma'ruf.

Bagaimana kalau mereka keras kepala, maka kita mengalah sambil berdoa terus dan negosiasi terus dengan cara yang baik tanpa mengurangi pelayanan kita bahkan harus lebih baik lagi, semoga Allah I melembutkan hati mereka. Karena keridhoan itu jika mereka sholeh sangat kita butuhkan lihat hadits berikut :

سنن الترمذي :   ) رِضَى  الرَّبِّ   فِي رِضَى  الْوَ الِدِ  وَ سَخَطُ  الرَّبِّ   فِي  سَخَطِ  الْوَ الِدِ(

Dari Abdullah bin Umar t, dari Nabi r, beliau bersabda : "Ridha Allah ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua".

Semoga segala masalah dan urusan apabila telah memperoleh ridho mereka menjadi mudah dan lancar, serta segala urusan kita tambah berkah dan lebih selamat serta merupakan jalan kebahagiaan. Bukankah kita ingin bahagia, carilah keridhoan dari mereka.

Bisa jadi kita kesal dan jengkel karena hal yang kita inginkan tak terwujud, atau bahkan perintah mereka selalu bertentangan dengan hati kita, kita tetap harus shabar, nilai kebaktian yang menghasilkan syurga memang berat, karena itulah pahalanya syurga, bukankah jihad sampai mati syahidpun pahalanya syurga, usahakan kita tetap ikhlas lahir bathin karena melawan mereka sekecil apapun ternyata termasuk kurang berbakti, apalagi sampai berani melawan mereka termasuk dosa besar, maka neraka jahanam balasannya. Lihat hadits dibawah ini :

المعجم الأوسط للطبراني - (ج 20 / ص 230)  :  عن عائشة ، قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ) مَا  بَرَّ  أَ بَاهُ  مَنْ  شَدَّ دَ  إِلَيْهِ  الطَّرْفَ  بِاْلغَضَبِ (

Dari Aisyah t : Rasulullah r bersabda : “Tidaklah dianggap berbakti kepada orang tua jika seseorang menajamkan pandangan (matanya) kepadanya karena marah”.

صحيح البخاري - (ج 8 / ص 251/ح 2231)  :    عَنْ  الْمُغِيرَ ةِ   بْنِ  شُعْبَةَ   قَالَ   قَالَ   النَّبِيُّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  ) إِنَّ  اللَّهَ  حَرَّ مَ   عَلَيْكُمْ   عُقُو قَ  اْلأُ مَّهَاتِ  (

Dari Mughirah bin Su'bah t, ia berkata, bahwa Rasulullah r telah bersabda : "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadamu berani atau melawan orang tua".

صحيح البخاري - (ج 9 / ص 136/ح 2460)  : عَنْ  عَبْدِ  الرَّحْمَنِ  بْنِ  أَبِي  بَكْرَةَ  عَنْ  أَبِيهِ  رَضِيَ  اللَّهُ  عَنْهُ  قَالَ  قَالَ  النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ) أَ لاَ  أُ نَبِّئُكُمْ  بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ  ثَلاَ ثًا  قَالُوا  بَلَى  يَا رَسُولَ  اللَّهِ  قَالَ  اْلإِشْرَ اكُ بِاللَّهِ  وَ  عُقُو قُ الْوَ الِدَ يْنِ(

Dari 'Abdurrahman bin Abi Bakrah dari bapaknya t berkata; Nabi r bersabda: "Apakah kalian mau aku beritahu dosa besar yang paling besar?" Beliau r menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab: "Mau, wahai Rasulullah". Maka Beliau r bersabda: "Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua".

سنن النسائي - (ج 17 / ص 151/ح 5577)  :   عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ) لاَ  يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنَّانٌ وَلَا عَاقٌّ وَلَا مُدْمِنُ خَمْرٍ(

Dari Abdullah bin Amru dari Nabi r, beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga seorang yang mengungkit-ungkit pemberian, orang yang durhaka (kepada orang tua) dan pecandu khamer."

Betapa bahaya apabila kita melawan orang tua kita, apalagi Allah I tidak akan memandang amalan kita jika kita durhaka, dan tak mau melihat kepada kita diakhirat. Sehingga haram syurga bagi kita.

سنن النسائي - (ج 8 / ص 342/ح 2515)  عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )ثَلاَ ثَةٌ  لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ  إِلَيْهِمْ  يَوْمَ  الْقِيَامَةِ  الْعَاقُّ لِوَ الِدَيْهِ  وَ  الْمَرْأَ ةُ  الْمُتَرَجِّلَةُ  وَ الدَّيُّوثُ  وَ  ثَلاَ  ثَةٌ   لاَ   يَدْخُلُونَ  الْجَنَّةَ  الْعَاقُّ   لِوَ  الِدَ يْهِ  وَ  الْمُدْمِنُ  عَلَى  الْخَمْرِ  وَ  الْمَنَّانُ  بِمَا أَعْطَى (

Dari Salim bin 'Abdullah dari Bapaknya dia berkata; Rasulullah r bersabda: "Tiga golongan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat; anak yang durhaka kepada orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki, dan Dayyuts, yaitu seorang yang merelakan keluarganya berbuat kekejian. Dan tiga golongan mereka tidak akan masuk surga; anak yang durhaka kepada orang tua, pecandu khamer, dan orang yang selalu menyebut-nyebut pemberiannya."

Hal yang paling celaka, siksaan Allah I tidak hanya di akhirat, bagi mereka yang durhaka kepada orang tua, maka duniapun menjadi tempat siksaan bagi mereka secara kontan, keberkahannya dicabut oleh Allah I, ....boleh jadi dia kaya, tapi dia akan pusing dan susah dengan kekayaannya, .....bisa jadi dia berpangkat, tapi dia akan menderita dengan pangkatnya, ......boleh jadi dia dihargai oleh manusia, tapi penghargaan itu menjadi beban yang berat untuknya.....

Bahkan anak-anaknya akan membalas dia karena tidak berbakti, dengan memperoleh keturunan yang durhaka pula..supaya merasakan bagaimana rasa sakitnya tidak dilayani dan ditentang anaknya sendiri. Lihat sabda Rasulullah r berikut ini :

المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 17 / ص 103/ح 7372) : يحدث عن أبي بكرة ، رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ) كُلُّ  الذُّ  نُوبِ   يُؤَ خِّرُ  اللهُ  مَا شَاءَ مِنْهَا  إِلىَ   يَوْمََ   اْلقِيَامَةِ   إِلاَّ   عُقُوقُ الوالدين  فإن  الله  تعالى  يُعَجِّلُهُ  لصاحبه   في  الحياة   قبل  الممات (

Dari Abu Bakrah :, dari Nabi r bahwa beliau bersabda : “Setiap dosa akan Allah tangguhkan (hukumannya) sesuai dengan kehendaknya, kecuali dosa karena durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Allah akan menyegerakan hukuman perbuatan itu kepada pelakunya di dunia ini sebelum ia meninggal”.

صحيح البخاري - (ج 8 / ص 251/ح 2231)  :    عَنْ  الْمُغِيرَ ةِ   بْنِ  شُعْبَةَ   قَالَ   قَالَ   النَّبِيُّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  ) إِنَّ  اللَّهَ  حَرَّ مَ   عَلَيْكُمْ   عُقُو قَ  اْلأُ مَّهَاتِ  وَ وَ أْدَ  الْبَنَاتِ  وَ مَنَعَ  وَهَاتِ  وَ  كَرِهَ  لَكُمْ   قِيلَ  وَ  قَالَ  وَ  كَثْرَ ةَ   السُّؤَ الِ  وَ  إِضَاعَةَ  الْمَالِ (

Dari Mughirah bin Su'bah t, ia berkata, bahwa Rasulullah r telah bersabda : "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepadamu berani atau melawan orang tua, menanam hidup-hidup anak perempuan, mencegah barang haq / menghalangi kebenaran, berkata begini begitu yang tidak jelas sumbernya, memperbanyak pertanyaan (sebagai alasan untuk merubah hukum atau tidak menyetujuinya), dan menghambur-hamburkan harta".

المعجم الأوسط للطبراني - (ج 3 / ص 13/ح 1014) :    عن  ابن  عمر  قال  : قال  رسول  الله  صلى  الله  عليه  و سلم  : ) بِرُّ وا  آباءَكُمْ  تَبِرُّ  كُمْ  أَبْنَاؤَكُمْ ، وَ عِفُّوْ ا  تَعِفُّ  نِسَاؤُ  كُمْ (

Dari Ibnu Umar t ia berkata, bahwa Rasulullah r bersabda : "Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya kelak anak-anakmu akan berbakti kepadamu. Dan peliharalah kehormatan dirimu, niscaya istri-istrimu akan selalu memelihara kehormatannya".

Oleh karena itu, maka berbuatlah yang terbaik untuk mereka, karena kebaktian kita tidak akan lunas sepanjang hayat kepada mereka, berapakah harga kasih sayang mereka jika diuangkan?, berapakah nilai pengorbanan mereka jika diuangkan?, berapakah nilai kemesraan mereka kepada kita?, berapakah nilai pengurusan mereka kepada kita, sejak melahirkan hingga menjadi sarjana?....betapa banyak jasa mereka....SUNGGUH PERBUATAN DAN KASIH SAYANG MEREKA TAK TERNILAI....

سنن أبي داود - (ج 13 / ص 348/ح 4471) و صحيح مسلم - (ج 8 / ص 30/ح 2779)  :    عَنْ  أَبِي  هُرَ يْرَ ةَ  قَالَ  قَالَ  رَسُولُ  اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ ) لاَ   يَجْزِي  وَ لَدٌ  وَ الِدَ هُ  إِلاَّ أَنْ   يَجِدَ هُ  مَمْلُوكًا  فَيَشْتَرِ يَهُ  فَيُعْتِقَهُ (

Dari Abu Hurairah t, ia berkata, bahwa Rasulullah r bersabda : "Seorang anak belum dikatakan berbakti kepada kedua orang tuanya, kecuali kalau dia menemukan orang tuanya menjadi budak kemudian membeli dan memerdekakannya".

Sungguh kita menjadi makhluk yang terhina jika tak bisa menghargai mereka, minimal dengan melayani mereka, dan Allah I menawarkan syurga untuk pengurusan orang tua kita yang telah lanjut usia, yang sudah pikun, yang tak bisa mandiri lagi seperti bayi, yang harus dimandiin oleh kita, bahkan BAB dan BAK nya di tempat tidur, kita yang membersihkannya, jaga terus keikhlasan jangan sampai mengeluh apabila direpotkan oleh mereka dengan menghabiskan tenaga, waktu, fikiran dan materi kita. Karena nilai syurga itu sangat mahal, lebih mahal dari perhiasan apapun di dunia. Itulah harga yang harus kita bayar......

صحيح مسلم :  ) رَ غِمَ  أَ نْفُ   ثُمَّ  رَغِمَ  أَ نْفُ  ثُمَّ رَغِمَ  أَ نْفُ  قِيلَ  مَنْ  يَا رَسُولَ  اللَّهِ  قَالَ  مَنْ  أَدْرَ كَ   أَ بَوَ يْهِ  عِنْدَ  الْكِبَرِ  أَحَدَ هُمَا  أَوْ   كِلَيْهِمَا  فَلَمْ   يَدْخُلْ  الْجَنَّةَ (

Dari Abu Hurairah t, dari Nabi r, beliau bersabda : "Terhinalah!, terhinalah!, terhinalah!. Ditanyakan kepada beliau, "Siapakah orang yang terhina itu wahai Rasulullah?".  Beliau r menjawab : "Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya yang telah mencapai usia lanjut, namun ia tidak dapat memasuki syurga (disebabkan ia tidak mau melayani mereka dan tidak menyenangkan hati mereka)".

Bagaimana jika mereka telah meninggal dan kebaktian kepada mereka sangat kurang, setidaknya ada beberapa hal yang masih bisa kita lakukan, lihat sabda Rasulullah r berikut :

صحيح مسلم :   ) أَ بَرُّ  الْبِرِّ  أَنْ   يَصِلَ  الرَّجُلُ وُدَّ  أَبِيهِ (

Dari Abdullah bin Umar t, dari Nabi r, beliau bersabda : " Sebaik-baiknya amal bakti seorang anak kepada orang tuanya, adalah yang menjaga hubungan baik dengan kawan-kawan ayah(ibu)nya (setelah mereka meninggal)".

صحيح ابن حبان:   ) مَنْ  أَحَبَّ أَنْ  يَصِلَ  أَبَاهُ  فِي  قَبْرِ هِ ،  فَلْيَصِلْ  إِخْوَ انَ  أَبِيْهِ  بَعْدَهُ (

Dari Abdullah bin Umar t, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah r bersabda : "Barang siapa yang ingin menjalin hubungan dengan ayahnya yang berada dalam kuburnya, maka hendaklah ia menjalin hubungan baik dengan saudara-saudara ayahnya sepeninggalnya".

مسند أحمد - (ج 27 / ص 356/ح 13309)   :  عَنْ  أَ نَسِ  بْنِ  مَالِكٍ  قَالَ  قَالَ  رَسُولُ  اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  ) مَنْ  سَرَّ هُ  أَنْ   يُمَدَّ لَهُ فِي  عُمْر  ِهِ  وَ  يُزَ ادَ  لَهُ  فِي  رِزْ قِهِ  فَلْيَبَرَّ  وَ الِدَ يْهِ  وَ  لْيَصِلْ  رَحِمَهُ (
Dari Anas bin Malik t, ia berkata, Rasulullah r bersabda : "Barang siapa yang ingin umurnya dipanjangkan dan rezekinya ditambah, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua orangtuanya, dan hubungkanlah kekerabatannya (Silaturahiim)".

Sungguh melayani mereka dan berbakti kepada mereka harus dihiasi dengan perhiasan penuh keikhlasan, karena terkadang melayani mereka diuji oleh Allah dengan konflik, dan kita harus bershabar melayani mereka, berunding dengan ma'ruf jika ada permasalah adalah hal yang terbaik, terindah, dan memperoleh jalan keselamatan dan kebarokahan.

Jika kita tidak puas dengan keinginan kita....., maka mari kita merenung berapa banyak waktu, tenaga dan fikiran mereka yang dihabiskan untuk kita, dan berapa banyak keinginan mereka yang terganggu dan terhalang oleh kehadiran kita, mereka ikhlas dengan kesadaran yang tinggi oleh sebuah kata...KEWAJIBAN.....DAN HARUS MEMBERIKAN HAK TERSEBUT KEPADA ANAKNYA..WALAUPUN KEPENTINGAN MEREKA JADI DIKESAMPINGKAN,.....semoga kitapun belajar dari mereka,..belajar mengatur dan menata kepentingan kita untuk mereka baik dari segi tenaga, fikiran waktu dan materi kita.


[1] Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, hubungan kekeluargaan, dan ada pula antara yang Muslim dan yang bukan Muslim
[2] Ibnu sabil ialah orang yang dalam perjalanan yang bukan maksiat yang kehabisan bekal. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya
[3] Mengucapkan kata “ah” kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama, apalagi meng-ucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu