Al Qur'an

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَ ةَ وَ أْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَ انْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ اصْبِرْ عَلَى مَا أَصَا بَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور [لقمان/17]

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukmaan (31) : 71

SILAHKAN DISEBARKAN

SILAHKAN DIPERBANYAK / DISEBARKAN DENGAN COPY PASTE ASAL SEBUTKAN SUMBERNYA, TERIMA KASIH

Rabu, 02 Februari 2011

Bertetangga Menurut Islam


Kaidah Menurut hukum Al Qur’an:

وَ اعْبُدُوا اللَّهَ وَ لاَ تُـشْرِكُوا بِهِ شَـيْئًا وَ بِالْوَ الِدَ يْنِ إِحْسَانًا وَ بِذِي الْقُرْ بَى وَ الْـيَـتَـامَى وَ الْمَسَا كِينِ وَ الْجَـارِ ذِي الْقُرْ بَى وَ الْجَارِ الـْجـُنُـبِ وَ الـصَّاحِـبِ بِـالْـجَـنْبِ وَ ابْنِ السَّـبِـيـْلِ وَ مَا مَـلَـكَـتْ أَ يْمَانُـكُمْ إِ نَّ اللَّهَ لاَ يُـحِبُّ مَنْ كَانَ مُـخْـتَـالاً فَـخُـورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (Q.S. An-Nisaa (4) :36)

Tafsir Qur’an ayat diatas :

- Dimulai dengan kalimat وَ اعْبُدُوا اللَّهَ وَ لاَ تُـشْرِكُوا بِهِ شَـيْئًا memberikan makna segala ibadah apapun harus dengan niat ikhlas karena Allah, dan tidak ada niat lain kecuali dipersembahkan untuknya, sehingga apabila beribadah/menyembah kepada selainnya maka hal itu termasuk sebuah kesyirikan (besar / kecil, nampak /tersamar).

- Kemudian setelah dasar keikhlasan untuk beribadah telah tertanam dengan kuat maka selanjutnya Allah memerintahkan untuk berbakti kepada orangtua, karib kerabat, anak yatim,orang miskin,tetangga, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya. Dimana uraiannya kita fokuskan kepada الـْجـُنُـبِ وَ الْجَـارِ ذِي الْقُرْ بَى وَ الْجَارِ (tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh).

Tinjauan para Ahli tafsir :

1. Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir, Imam Nasafiy dalam Tafsir Nasafiy : tetangga dekat adalah tetangga yang memiliki kedekatan dari sisi nasab/keturunan, sedangkan tetangga jauh adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan nasab/keturunan.

2. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menghimpun pendapat para sahabat, yaitu Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Maimun bin Mahraan, dan Adh-Dhahak menerangkan bahwa tetangga dekat adalah yang memiliki hubungan keturunan dan kedekatan sedangkan tetangga jauh tetangga yang tidak memiliki hubungan kedekatan dan kekerabatan.

3. Imam Al Qurthuby, didalam Tafsir Al Qurthuby, menghimpun pendapat Abu Ishaq, Nauf Al Bakaali, Nauf Al Syami yang menerangkan bahwa tetangga dekat kita adalah setiap muslim dan tetangga jauh kita adalah yang non muslim, Imam Qurthubi juga menjelaskan dalam tafsirnya bahwa jauh-dekat juga bisa ditafsirkan dengan jarak berdasarkan hadits dari Aisyah, bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah,

يَارَ سُو لَ اللهِ اِنَّ لِي جَا رَ يْنِ فَاِ لَي أَ يّـِهِمَا أُهْدِي قَالَ اِ لَي أَ قْرَ بِـهِمَا مِنْكِ بَا بًا

“ Ya Rasulullah, saya mempunyai 2 orang tetangga, lantas mana yang harus aku beri terlebih dahulu” Rasulullah menjawab, “Berikanlah kepada tetangga yang paling dekat (pintunya) dengan rumahmu”.(H.R Bukhori)

Jadi berdasarkan hadits tersebut tetangga dekat adalah tetangga yang paling dekat rumahnya, dan tetangga jauh adalah tetangga yang paling jauh jaraknya. Batasannya tetangga dekat adalah yang 40 rumah dari segala arah, begitu menurut pendapat Abu Bakar, Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib. Dan tetangga yang jauh yang lebih dari 40 Rumah.


Tetangga Harus Dimuliakan dan Dihormati

حَدِيثُ أَبِي شُرَ يْحٍ الْخُزَ اعِيِّ رَ ضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ الـنَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِاللَّهِ وَ الْـيَوْ مِ الْآخِرِ فَـلْـيُحْسِنْ إِلَى جَارِ هِ وَ مَنْ كَانَ يُـؤْ مِنُ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ فَـلْـيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَ مَنْ كَانَ يُؤْ مِنُ بِا للَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ فَـلْـيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ

Diriwayatkan dari Abu Syuraih al-Khuza'iy r.a, ia berkata: Nabi s.a.w bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia berkata hanya perkara yang baik atau diam (H.R Bukhori, HR Muslim, HR Turmudzi, HR Nasai)

حَدِيثُ أ َنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُ كُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِـنَفْسِهِ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Nabi s.a.w telah bersabda: Tidak sempurna iman seseorang itu, sebelum dia mengasihi saudaranya atau baginda bersabda: Sebelum dia mengasihi / menghormati tetangganya, sebagaimana dia mengasihi / menghormati dirinya sendiri (H.R Bukhori, HR Muslim, HR Turmudzi, HR Nasai)

حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَـنَنْتُ أَ نَّـهُ سَـيُوَرِّ ثُـهُ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Malaikat jibril senantiasa berpesan kepadaku untuk selalu berbuat baik kepada tetangga, hingga aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut mendapat hak waris. (H.R Bukhori, HR Muslim, HR Turmudzi, HR Nasai)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir , Rasulullah bersabda : “ Tetangga itu ada 3 macam : Pertama, tetangga yang hanya memiliki satu hak saja yakni orang musyrik. Kedua tetangga yang memiliki dua hak, yakni tetangga muslim. Ketiga yang memiliki tiga hak yakni tetangga muslim yang memiliki hubungan kekeluargaan”.


Cara-cara Islam menghormati dan memuliakan tetangga sebagai berikut :


I. Saling Memberi Hadiah

حَدِيثُ أَبِي هُرَ يْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَـحْقِرَ نَّ جَارَ ةٌ لِـجَارَ تِـهَا وَ لَـوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya : Rasulullah s.a.w pernah bersabda : Wahai wanita-wanita Islam! Janganlah seorang tetangga merasa terhina untuk memberi sesuatu kepada tetangganya, walaupun berupa kikil kambing. (HR Bukhori, Muslim,Turmudzi, Ahmad Ibnu Hambal)

Hadits diatas merupakan ungkapan yang paling lembut dan halus agar seorang muslim selalu memperhatikan dan berbagi kebahagiaan dengan tetangganya, serta dilarang menghina pemberian tetangganya, meskipun pemberian itu remeh.

Abdullah bin Musawwir RA berkata, saya pernah mendengar Ibnu Abbas meriwayatkan dari Ibnu Zubbair, dimana dia menuturkan ; saya pernah mendengar Rasulullah bersabda :

لَيسَ الْمُؤْ مِنُ الَّذِ ي يَشْبِعُ وَ جَا رُ هُ جَا ئِـعٌ

“ Bukan termasuk orang yang beriman, siapa saja yang kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.” (HR Bukhari)


II. Tidak Menyebut-nyebut Pemberian

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَ الَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لاَ يُتْبِعُونَ مَا أَ نْفَقُوا مَنًّا وَ لاَ أَذًى لَـهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَ بِّهِمْ وَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لاَ هُمْ يَحْزَ نُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S. Al Baqarah (2) : 262)

يَا أَ يُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَ اْلأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِ ئَـاءَ النَّاسِ وَ لاَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَ ابٌ فَأَصَابَهُ وَ ابِلٌ فَـتَرَكَهُ صَلْدًا لاَ يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَ اللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Q.S. Al Baqarah (2) : 264)


III. Tidak Melarang Tetangga yang Hendak Menancapkan Kayu di Temboknya

حَدِيثُ أَبِي هُرَ يْرَ ةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ لاَ يَمْنَعْ أَحَدُ كُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِي جِدَ ارِهِ

Diriwayakan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Janganlah salah seorang daripada kamu melarang tetangganya yang ingin menancapkan kayu pada dinding rumahnya. (HR Bukhori-Muslim)



IV. Tidak Menggunjing dan Memfitnah Tetangga

يَا أَ يُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِ نَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَ لاَ تَـجَسَّسُوا وَ لاَ يَـغْـتَبْ بَـعْضُكُمْ بَعْضًا أَ يُحِبُّ أَحَدُ كُمْ أَنْ يَأْ كُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْـتًا فَكَرِهْـتُمُوهُ وَ اتَّـقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَـوَّابٌ رَحِيمٌ (12)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al Hujurat (49) : 12)

حَدِيث حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ يَدْخُلُ الْجَـنـَّةَ نَمَّامٌ

Diriwayatkan dari Huzaifah r.a katanya: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak masuk Syurga orang yang suka menabur fitnah (HR Bukhori-Muslim)

V. Tidak Mendiamkan Tetangga lebih dari 3 hari

حَدِيثُ أَ نَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تَـبَاغَضُوا وَ لاَ تَحَاسَدُوا وَ لاَ تَدَ ابَـرُوا وَ كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَ انًا وَ لاَ يـَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَـهْجُرَ أَخَاهُ فَوْ قَ ثَـلاَثٍ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah kamu saling benci membenci, dengki mendengki dan sindir menyindir. Jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Haram seseorang muslim bermusuhan dengan saudaranya lebih dari tiga hari lamanya (HR Bukhori-Muslim)


VI. Gemar Menolong Tetangga Dalam Kebaikan

وَ تَـعَاوَ نُـوا عَلَى الْبِرِّ وَ الـتـَّقْوَ ى وَ لاَ تَـعَاوَ نُـوا عَلَى اْلإ ِثْمِ وَ الْعُدْوَ انِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (Q.S Al Maidah (5) : 2)

حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَ لاَ يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَ مَنْ فَرّ َ جَ عَنْ مُسْلِمٍ كُـرْ بَةً فَرّ َ جَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْ بَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَا مَةِ وَ مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَ هُ اللَّهُ يَوْ مَ الْقِيَامَةِ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain. Beliau tidak boleh menzalimi dan menyusahkannya. Barangsiapa yang mau memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah pun akan berkenan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan kepada seorang muslim, maka Allah akan melapangkan salah satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan Hari Kiamat nanti. Barangsiapa yang menutup aib seseorang muslim, maka Allah akan menutup aibannya pada Hari Kiamat. (HR Bukhori-Muslim)


VII. Rendah Hati dan Bermurah Hati Kepada Tetangga yang Miskin, Lemah atau Yatim Piatu

وَ بِالْوَ الِدَ يْنِ إِحْسَانًا وَ بِذِي الْقُرْ بَى وَ الْـيَـتَـامَى وَ الْمَسَا كِينِ وَ الْجَـارِ ذِي الْقُرْ بَى وَ الْجَارِ الـْجـُنُـبِ وَ الـصَّاحِـبِ بِـالْـجَـنْبِ وَ ابْنِ السَّـبِـيـْلِ وَ مَا مَـلَـكَـتْ أَ يْمَانُـكُمْ.

Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. (Q.S. An-Nisaa (4) :36)

حَدِيثُ أَبِي هُرَ يْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّاعِي عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَ الْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَ أَحْسِبُهُ قَالَ وَ كَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَ كَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w telah bersabda: Orang yang berusaha untuk membantu para janda dan orang miskin bagaikan orang yang berperang di jalan Allah dan seperti yang melaksanakan sholat sepanjang malam dan seperti orang yang berpuasa tanpa berhenti. ( HR Bukhori-Muslim )


VIII. Tidak berlaku zhalim terhadap tetangga

Dari Jabir, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

اِتَّـقوُ ا الظُّـلْمَ فَاِنَّا الـظُّـلْمَ ظُـلُمَ تٌ يـَوْ مَ الْـقِـيَا مَة.ِ

“Takutlah kamu sekalian pada kezhaliman ( penganiayaan ). Sebab, kezhaliman itu merupakan kegelapan pada Hari Kiamat. “ ( HR Muslim )

Dari A’isyah Radhaiyallahu Anha, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

مَـنْ ظَـلَـمَ قِيدَ ِشْبـٍر مِنْ ا لأَ رْ ضِ طُــوِّ قَهُ مِنْ سَــبْـعِ أَ رَ ضِــينَ

“Barangsiapa yang mengambil hak orang lain, walaupun hanya sejengkal tanah, maka nanti akan dikalungkan padanya tujuh lapis bumi. “ (HR Bukhari- Muslim)

Dalam sebuah riwayat juga dituturkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berujar :

لَـتُـؤَ دُّ نَّ الْـحُقُو قَ ِالَي أَ هْلـِهَا يَـوْ مَ الْـقـِيَامَةِ حَـتَّى يَـقُـادَ لِلشَّــاةِ الْـجَلْحَاءِ مِنَ الشَّـاةِ الْـقَرْ نَـاءِ.

“Sungguh kamu sekalian nanti pada Hari Kiamat diperintahkan untuk mengembalikan semua hak kepada yang berhak. Sampai-sampai kambing yang tidak bertanduk ( yang sewaktu di dunia pernah ditanduk ) diberi hak untuk membalas kambing yang bertanduk.” (HR Bukhari- Muslim)

Barang siapa menzhalimi tetangganya maupun saudaranya, akan diganjar dengan siksaan yang sangat pedih. Bahkan, kezhalimannya akan menyebabkan kebangkrutan dirinya kelak di akherat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ كَانَـتْ عِنْدَهُ مَـظْلِـمَةٌ ِلأَخِيهِ فَـلْـيَـتَحَلَّـلْـهُ مِنْـهَا فَـأِ نَّـهُ لَـيْسَ ثَـمَّ دِ يْنَـارٌ وَ لاَ دِرْهَمٌ مِنْ قَـبْـلِ أَنْ يُـؤْ خَذَ ِلأَ خِيــــــهِ مِـــنْ حَسَنَـا تِـهِ فَـأِنْ لَـمْ يـَكُنْ لَهُ حَسَناَتٌ أُخِذَ مِنْ سَـيِّـئَاتِ أَ خِيْـهِ فَـطُرِحَتْ عَـلَيْهِ.

“Barangsiapa yang pernah menganiaya saudaranya yang berhubungan dengan kehormatan diri maupun yang berhubungan dengan harta benda, maka hendaklah dihalalkan (ia meminta maaf ) sekarang juga, sebelum datangnya saat dimana dinar dan dirham tidak berguna, dimana bila mempunyai amal shalih, maka amal itu akan diambil sesuai dengan kadar penganiayaannya. Bila ia tidak mempunyai kebaikan, maka kejahatan orang yang dianiayanya itu diambilnya dan dibebankan kepadanya.” (HR Bukhari- Muslim)

Dalam hadits lain diriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda :

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِنِهِ فَقَدْ أَوْ جَبَ اللَّهُ لَـهُ الـنَّارَ وَ حَرَّ مَ عَـلَيْهِ اْلجَـنَّةَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ وَ اِنْ كَانَ ثَــيْـئًا يَسِيْرًا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَ اِنْ قَضِيْـبًا مِنْ أَرَ اكِ

“Barangsiapa merampas hak seorang muslim dengan menggunakan sumpah, maka Allah benar-benar mewajibkan kepadanya untuk masuk neraka dan Allah mengharamkan surga baginya”. Ada seorang sahabat bertanya, “ Walaupun yang dirampas itu sesuatu yang sangat sedikit, ya Rasulullah ?”, Beliau menjawab “ Walaupun hanya sepotong kayu arak “(HR Bukhari- Muslim)


IX. Hak-hak Tetangga

Rasulullah SAW telah memperinci beberapa hak tetangga atas tetangganya yang lain. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Muadz bin Jabal pernah berkata :

قُـلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا حَقُّ الْجَارِ قَالَ اِنْ اِسْتَقْرَضْكَ أَقْرِضْتَهُ وَ اِنْ اِسْتَـعَانَكَ أَعْنـَتَـهُ وَ اِنْ اِحْتَاجَ أَعْطَـيْتَهُ وَ اِنْ مَرِضَ عِدْ تَهُ وَ اِنْ مَاتَ تَبِعْتَ جَنَازَتَهُ وَ اِنْ اَصَابَهُ خَيْرً سِرَّ كَ وَ هَنِيْتَهُ وَ اِنْ أَصَا بَتْهُ مُصِيْبَةٌ سَا عَتْكَ وَ عَزِ يْتَهُ وَ لاَ تُـؤْذِه ِ بِـقِـتَارِ قَدْرِكَ اِلاَّ أَ نْ تَغْرِفَ لَهُ مِنْهَا وَ لاَ تَسْتَطِلُّ عَلَـيْهِ الرِّ يـــْحُ اِلاَّ بِـاِذْ نِهِ وَ اِنْ اِشْـتَرَ يْتَ فَا كِـهَةً فَـأَهْدِلَهُ مِنْـهَا وَ اِلاَّ فَـأَدْخُلْـهَا سِـرًّا لاَ يَخْرُجْ وَ لَدُ كَ بِشَئٍ مِنْهُ يُغِيْظُوْنَ بِهِ وَ لَدَ هُ وَ هَلْ تَفْقَهُوْنَ مَا اَقُوْلُ لَكُمْ لَنْ يُؤْ دِى حَقُّ الجَارِ اِلاَّ الْقَلِيْلُ مِمَّنْ رَحِمَ اللَّهُ

“Kami bertanya kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah apa hak tetangga itu?”, Rasulullah SAW menjawab, “ Jika ia berhutang kepadamu, maka berilah dirinya hutang ; Jika meminta bantuan, bantulah ia ; Jika membutuhkan sesuatu, berilah ia ; Jika sakit maka kunjungilah ; Jika ia mati maka uruslah jenazahnya ; Jika ia mendapat kebaikan, bergembiralah dan ucapkanlah sukacita kepadanya ; Jika ia ditimpa musibah, turutlah sedih dan berduka. Janganlah engkau menyakitinya dengan api periuk belangamu (maksudnya jika anda memasak jangan sampai baunya tercium tetangga), kecuali engkau memberi sebagian kepadanya. Janganlah engkau mempertinggi bangunan rumahmu, agar bisa melebihi rumahnya, dan menghalangi masuknya angin, kecuali atas izin darinya. Jika engkau membeli buah-buahan, maka berikan sebagian buah itu kepadanya ; Jika engkau tidak mau memberinya, maka masukkan kedalam rumahmu dengan sembunyi-sembunyi, dan janganlah anakmu keluar dengan membawa satupun buah itu, sehingga anaknya menginginkannya. Apakah kalian memahami apa yang aku katakana kepada kalian, bahwa hak tetangga tidak akan pernah ditunaikan kecuali oleh sedikit orang yang dikasihi Allah!”. (Diambil dari Tafsir Al Qurthuby, derajat Hadits Hasan)

Hak tetangga harus dijunjung tinggi dan ditunaikan sesuai dengan kemampuannya. Sebab hak tetangga berarti kewajiban bagi tetangga yang lain. Riwayat diatas memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para tetangga untuk senantiasa berbuat baik dan memnunaikan hak-hak tetangganya. Sayangnya sedikit sekali tetangga yang memahami hak tetangga yang lain. Akibatnya, banyak tetangga saling bermusuhan dan membenci, iri, dengki dan hasud, gara-gara hak-haknya tidak ditunaikan.

Tatkala hak dan kewajiban tidak terpenuhi pasti akan menyebabkan tindak penyimpangan dan kezhaliman. Untuk itu tetangga yang baik adalah tetangga yang selalu menunaikan hak-hak tetangganya, serta tidak melanggar atau merampas hak-haknya. Jikalau tetangganya berusaha merampas haknya atau hendak menzhaliminya, ia berusaha untuk sabar dan menahan diri, sambil mengingatkan kesilapannya. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa Allah akan memberikan kemuliaan, jika ia memaafkan dan bershabar atas kezhaliman orang lain, Rasulullah SAW bersabda :

وَ مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ اِلاَّ عِزًّا وَ مَا تَوَا ضَعَ أَحَدِّ لِلَّهِ اِلاَّ رَفَعَ اللَّهُ

“Allah tidak akan menambahkan kepada seseorang yang suka memaafkan melainkan kemuliaan; dan tiadalah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah yang Mahamulia lagi Mahaagung akan mengangkat derajatnya” (HR Muslim)

Dalam Riwayat lain juga dituturkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

ثَلاَ ثَةٌ أُ قْسِمُ عَلَيْـهِـنَّ وَ أُ حَدِّ ثُـكُمْ حَدِ يْثًـا فَاحْفَظُوْ هُ قَالَ مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ وَ لاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَ اِلاَّ زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا وَ لاَ فَتَحَ عَبْدً بَابَ مَسْـأَ لَةٍ اِلاَّ فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْـهِ بَابَ فَقْرٍ

“Ada 3 perkara yang aku bersumpah kepadanya dan aku akan menyampaikan suatu berita kepada kamu sekalian, maka ingatlah benar-benar. Tiadalah akan berkurang harta seseorang karena shadaqah, Tiadalah seseorang dianiaya (dizhalimi) dengan suatu penganiayaan kemudian ia sabar atas penganiayaan itu, melainkan Allah akan memberikan kemuliaan kepadanya. Dan tiadalah seseorang membuka pintu peminta-minta kecuali Allah akan membukakan kepadanya pintu kemiskinan atau ucapan yang sepadan dengannya” (HR Turmudzi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar