Al Qur'an

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَ ةَ وَ أْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَ انْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ اصْبِرْ عَلَى مَا أَصَا بَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور [لقمان/17]

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukmaan (31) : 71

SILAHKAN DISEBARKAN

SILAHKAN DIPERBANYAK / DISEBARKAN DENGAN COPY PASTE ASAL SEBUTKAN SUMBERNYA, TERIMA KASIH

Selasa, 16 Agustus 2011

Renungan Mengenai Harta Kekayaan (Bagian 1) :


 Harta kekayaan bisa menjadi sebuah fitnah.

Harta adalah sesuatu yang diburu oleh manusia, tidak jarang ujung-ujung dari sebuah pekerjaan adalah menghasilkan harta, suatu negara bisa hancur dan rusak karena harta, suatu negara dijajah juga karena berlimpah harta, hidup kitapun sekarang tidak lepas dari harta, mulai dari makan dan minum sampai keperluan lainnya, jika manusia tak berharta maka akan sulit hidupnya dan sulit juga memajukan kehidupan generasi berikutnya.

Sebuah harta kekayaan baik dan buruknya, berkah dan tidak berkahnya, banyak dan sedikitnya tergantung cara kita memperolehnya, cara mempergunakannya, serta cara menyimpannya.

Oleh karena itu marilah kita pahami kaidah-kaidah tentang harta ini, sehingga tidak menjadi bumerang bagi pemiliknya, tidak menjadi sebuah kehancuran bagi si pencarinya, tidak juga menjadi bahan penyesalan bagi sipenggunanya, dan tidak juga menjadi laknat bagi si penyimpannya.

Memahami harta setidaknya kita harus mengetahui 6 kaidah karakteristik tentangnya : [1]

1.       Harta kekayaan bisa menjadi sebuah fitnah.

2.       Harta kekayaan adalah kebaikan dan pilar utama kehidupan.

3.       Harta kekayaan adalah sesuatu yang paling dicintai manusia sesuai tabiatnya.

4.       Harta kekayaan bisa juga menjadi sebuah laknat.

5.       Banyak Harta tak ingin, tapi miskinpun segan.

6.       Qana’ah dan kafaf adalah kekayaan yang sejati.

Marilah kita bahas secara rinci 6 (enam) kaidah tersebut semoga bermanfaat dalam memahami karakteristik serta amanah yang diharapkan Allah tentang harta kekayaan ini, sekaligus mengetahui bala bencana yang akan ditimbulkannya, ketika kita mencari dan memiliki banyak harta, atau sebaliknya ketika kita tidak mempunyai harta dan kehilangan harta :

1.          Harta kekayaan bisa menjadi sebuah fitnah.

Al Qur’an dan As-sunnah banyak sekali menerangkan bahwa harta kekayaan itu adalah fitnah, yaitu ujian Allah I terhadap hamba-hambaNya. Harta bersifat netral, tergantung kepada siapa yang memegang dan memanfaatkannya.

Harta kekayaan bisa dipergunakan dalam kebaikan maupun dalam kejahatan, untuk membangun maupun untuk merusak, harta kekayaan akan membawa kebaikan dan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat, jika dipergunakan dalam jalan yang benar, untuk menegakkan tugas hidup beribadah dan bertauhid. Sebaliknya, harta kekayaan juga bisa menjadi bencana dan kecelakaan di dunia dan akhirat ketika dipakai dan dimanfaatkan untuk memuaskan dorongan hawa nafsu semata.

Marilah kita simak firman-firman Allah I dibawah ini, tentang bahayanya harta jika tidak dipergunakan dengan baik, dan akan menimbulkan fitnah yang sangat besar dan banyak.

وَ لَنَبْلُوَ نَّـكُمْ  بِشَيْ ءٍ  مِنَ  الْخَوْفِ  وَ الْجُو عِ   وَ  نَقْصٍ  مِنَ  اْلأَ مْوَ الِ  وَ  اْلأَ  نْفُسِ  وَ  الثَّمَرَ اتِ وَ  بَشِّرِ  الصَّابِرِينَ  [البقرة/155]

Dan sungguh kami pasti akan memberikan cobaan (menguji) kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (saat menerima ujian yang buruk). (QS Al Baqarah (2) :155)

إِ نَّا  جَعَلْنَا  مَا  عَلَى  اْلأَرْضِ  زِينَةً   لَهَا  لِنَبْلُوَ هُمْ  أَ  يُّهُمْ   أَحْسَنُ   عَمَلاً  [الكهف/7]

Sesungguhnya Kami telah Menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka, sehingga terbukti siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. (QS Al Kahfi (18) :7)

Imam Ibnu Katsir atau yang dikenal dengan nama sebenarnya Al Hafizh Abu Al-Fida’ Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi (774 H) dalam menafsirkan surat Al Baqarah ayat 155, beliau berkata : “Allah I memberitahukan bahwa Dia akan selalu memberikan ibtila’ yaitu ujian dan cobaan kepada hamba-hambaNya. Dan maksud : (بِشَيْ ءٍ  مِنَ  الْخَوْفِ  وَ الْجُو عِ) adalah memberikan sedikit rasa ketakutan dan merasakan kelaparan. Maksud dari (وَ  نَقْصٍ  مِنَ  اْلأَ مْوَ الِ) adalah terlepasnya harta kekayaan dari tangan seseorang. Maksud (وَ  اْلأَ  نْفُسِ) seperti kematian kawan-kawan dekat, kematian kaum kerabat, dan kematian orang-orang yang dicintai. Maksud dari (وَ  الثَّمَرَ اتِ) adalah kebun-kebun dan ladang-ladang yang tidak menghasilkan panen seperti biasanya. Sebagian ulama salaf mengatakan maksudnya adalah sebagian pohon/kebun kurma hanya mampu menghasilkan hasil yang sedikit bahkan bisa juga satu buah saja dari setiap kebun. Hal-hal seperti ini memang merupakan ujian dari Allah I. Barang siapa yang bersyukur maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah I. Dan barang siapa berputus asa, niscaya akan mendapatkan siksaNya [2]

Allah I juga mengabarkan dengan firmanNya yang lain supaya kita lebih faham dan mengerti tentang amanah harta ini :

لَتــُبْلَوُنَّ   فِي  أَمْوَ  الِكُمْ  وَ  أَ نْفُسِكُمْ  [آل عمران/186]

Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. (QS Ali Imran (3) :186)

وَ  اعْلَمُوا  أَ  نَّمَا  أَمْوَ الُكُمْ  وَ  أَوْ لاَدُ كُمْ   فِتْنَةٌ   وَ  أَنَّ  اللَّهَ   عِنْدَ هُ  أَجْرٌ  عَظِيمٌ [الأنفال/28]

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan saja dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang sangat besar. (QS Al Anfal (8) : 28)

يَا  أَ يُّهَا  الَّذِينَ  آَمَنُوا  إِنَّ  مِنْ  أَزْوَ اجِكُمْ   وَ  أَوْلاَدِكُمْ   عَدُوًّ ا  لَكُمْ   فَاحْذَرُو هُمْ   وَ   إِنْ تَعْفُوا  وَ  تَصْفَحُوا  وَ  تَغْفِرُوا  فَإِنَّ   اللَّهَ   غَفُورٌ  رَحِيمٌ  ( 14)   إِ نَّمَا  أَمْوَ الُكُمْ   وَ  أَوْلاَ دُ  كُمْ   فِتْنَةٌ  وَ  اللَّهُ  عِنْدَ هُ   أَجْرٌ  عَظِيمٌ (15) [التغابن/14، 15]

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu , [3] maka berhati- hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (14) Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang sangat besar (15) (QS At Taghabuun (64) : 14-15)

Imam Ibnu Katsir berkata : (إِنَّ مِنْ أَزْوَ اجِكُمْ وَ  أَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّ ا  لَكُمْ  ) “Allah I memberitahukan dengan jelas dan gamblang tentang istri-istri dan anak-anak, bahwa ada dari sebagian mereka yang menjadi musuh bagi suami dan orang tuanya”. Artinya sebagaian mereka melalaikan (membuat sibuk) suami dan orang tuanya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah I dan beramal shalih. Sebagaimana disebutkan dalam firmanNya :

يَا  أَ  يُّهَا  الَّذِينَ   آَمَنُوا  لاَ   تُلْهِكُمْ   أَمْوَ الُكُمْ   وَ  لاَ   أَوْلاَ دُ  كُمْ   عَنْ   ذِكْرِ  اللَّهِ  وَ  مَنْ   يَفْعَلْ  ذَلِكَ فَأُو لَئِكَ   هُمُ   الْخَاسِرُونَ   [المنافقون/9]

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS Al Munaafiquun (63) : 9)

Oleh sebab itu, Allah I berfirman ,( فَاحْذَرُو هُمْ) “Maka berhati-hatilah / waspadalah terhadap mereka”. Abdurahman bin Zaid berkata : “Maknanya adalah waspadailah gangguan mereka terhadap agamamu”. Mujahid berkata : “Maknanya adalah istri dan anak mendorong seseorang untuk memutuskan tali kekerabatan dan bermaksiat kepada Allah I. Karena begitu besarnya kecintaan kepada mereka, ia tidak mampu menolak kemauan mereka tersebut, akibatnya ia menuruti kemauan mereka”. [4]

Imam Ibnu Katsir berkata : “Makna firman Allah I (فِتْنَةٌ) ‘fitnah’ adalah ujian dan cobaan dariNya kepada kalian dengan mengaruniakan harta kekayaan dan anak-anak kepada kalian. Tujuannya adalah agar Allah I mengetahui, apakah kalian bersyukur kepadaNya atas limpahan nikmat tersebut dan mempergunakannya dalam rangka ketaatan kepadaNya, ataukah kalian justru tersibukkan olehnya sehingga lalai mentaatiNya dan bahkan mendurhakaiNya”.  Dan makna firman Allah I (وَ  اللَّهُ  عِنْدَ هُ   أَجْرٌ  عَظِيمٌ)“dan disi Allah-lah pahala yang besar”adalah pahala, karunia dan syurgaNya lebih baik bagi kalian dari harta kekayaan dan anak-anak kalian. Karena terkadang diantara mereka, ada yang justru menjadi musuh bagi kalian. Kebanyakan dari harta kekayaan, anak-anak dan istri (suami) tidak memberikan manfaat bagimu sedikitpun. Hanya Allah I semata dzat yang Maha Mengatur dan Maha Menguasai dunia dan akhirat. Disisi-Nya terdapat pahala yang besar pada hari kiamat kelak”. [5]

Allah I berfirman :

وَ  بَلَوْ نَاهُمْ   بِا لْحَسَنَاتِ  وَ  السَّيِّئَاتِ   لَعَلَّهُمْ   يَرْجِعُونَ   [الأعراف/168]

Dan Kami Uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS Al ‘Araf (7) : 168)

كُلُّ   نَفْسٍ  ذَ ائِقَةُ  الْمَوْتِ  وَ  نَبْلُوكُمْ   بِالشَّرِّ  وَ  الْخَيْرِ   فِتْنَةً  وَ  إِلَيْنَا  تُرْجَعُونَ  [الأنبياء/35]

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan Menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. (QS Al Anbiyaa (21) : 35)

Imam Ibnu Katsir berkata : “Maksudnya adalah kami menguji kalian. Terkadang dengan berbagai musibah dan terkadang dengan berbagai kenikmatan. Kami akan melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang putus asa”. Ibnu Abbas berkata : “Kami akan menguji kalian dengan kesusahan dan kelapangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan”. [6]

Nabi Sulaiman melihat singgasana Ratu Saba’ dibawa kehadapannya dalam waktu yang sangat singkat, tak melebihi waktu yang dibutuhkan untuk mengedipkan mata, melihat keajaiban tersebut, Nabi Sulaiman berkata :

  هَذَ ا  مِنْ  فَضْلِ   رَ  بِّي   لِيَبْلُوَ  نِي   أَ أَشْكُرُ  أَمْ   أَكْفُرُ  [النمل/40]

 “Ini termasuk karunia Tuhan-ku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). (QS An-Naml (27) : 40)

Allah I juga berfirman :

الْمَالُ   وَ  الْبَنُونَ  زِينَةُ   الْحَيَاةِ   الدُّ نْيَا  وَ  الْبَاقِيَاتُ   الصَّالِحَاتُ   خَيْرٌ  عِنْدَ  رَ بِّكَ   ثَوَ ا بًا وَ خَيْرٌ  أَمَلاً   [الكهف/46]

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal-amal kebajikan yang terus-menerus (kekal) adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS Al Kahfi (18) : 46)

Ibnu Abbas berkata : (الْبَاقِيَاتُ   الصَّالِحَاتُ) “amal-amal kebajikan yang terus-menerus (kekal)”, adalah setiap amal shalih baik berupa ucapan maupun perbuatan yang kekal untuk akhirat, seperti dzikir yakni ucapan : “Laa ilaha illalloohu walloohu Akbar wa Subhanalloohu walhamdulillah wa tabaarokallohu wa laa haula wa laaquwwata illa billah wa astaghfirullah wa shallallohu ‘ala Rosulillah”.  Demikian pula shiyam, shalat, haji, sedekah, membebaskan budak, jihad, menyambung tali shilaturahim, dan seluruh amal kebaikan. Itulah amal-amal yang kekal lagi baik bagi pelakunya di syurga”. Abdurahman bin Zaid bin Aslam berkata : “amal-amal kebajikan yang terus-menerus (kekal)” adalah seluruh amal shaleh”. [7]

Dalam banyak hadits Rasulullah r juga telah menegaskan bahwa harta kekayaan adalah fitnah bagi seorang hamba :

سنن الترمذي - (ج 8 / ص 327/ح2256) و مسند أحمد - (ج 35 / ص 339/ح 16826) و الآحاد والمثاني لابن أبي عاصم - (ج 7 / ص 148/ح 2220) و المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 18 / ص 268/ح  8010) و  المعجم الأوسط للطبراني - (ج 7 / ص 393/ح  3423)  و  صحيح ابن حبان - (ج 13 / ص 447/ح  3292)  :  حَدَّ ثَنَا  أَحْمَدُ  بْنُ  مَنِيعٍ  حَدَّ ثَنَا  الْحَسَنُ  بْنُ  سَوَّ ارٍ  حَدَّ ثَنَا لَيْثُ  بْنُ  سَعْدٍ  عَنْ  مُعَاوِ يَةَ  بْنِ  صَالِحٍ  أَنَّ  عَبْدَ  الرَّحْمَنِ  بْنَ  جُبَيْرِ  بْنِ  نُفَيْرٍ  حَدَّ ثَهُ   عَنْ أَبِيهِ  عَنْ  كَعْبِ  بْنِ  عِيَاضٍ  قَالَ  سَمِعْتُ  النَّبِيَّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  يَقُولُ  )  إِنَّ    لِكُلِّ  أُمَّةٍ   فـِتْـنَةً  وَ  فـِتْنـَةُ   أُمَّتِي   الْمَالُ  (

Dari Ka'ab bin 'Iyadl berkata : Aku mendengar nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: ("Sesungguhnya setiap ummat itu memiliki fitnah dan fitnah ummatku adalah harta.")

صحيح البخاري - (ج 1 / ص 31/ح 18) و سنن أبي داود - (ج 11 / ص 337/ح 3722) و سنن ابن ماجه - (ج 11 / ص 477/ح 3970) و مسند أحمد - (ج 22 / ص 369/ح 10824) و صحيح ابن حبان - (ج 24 / ص 454/ح 6058) :  حَدَّ ثَنَا  عَبْدُ  اللَّهِ  بْنُ  مَسْلَمَةَ  عَنْ  مَالِكٍ  عَنْ  عَبْدِ  الرَّحْمَنِ  بْنِ  عَبْدِ  اللَّهِ   بْنِ  عَبْدِ  الرَّحْمَنِ بْنِ  أَبِي  صَعْصَعَةَ  عَنْ  أَبِيهِ  عَنْ  أَبِي  سَعِيدٍ  الْخُدْرِيِّ  رَضِيَ  اللَّهُ  عَنْهُ  أَ نَّهُ  قَالَ  قَالَ  رَسُولُ  اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ   يُوشِكُ )  أَنْ   يَكُونَ خَيْرَ  مَالِ   الْمُسْلِمِ   غَنَمٌ   يَتْبَعُ  بِهَا  شَعَفَ   الْجِبَالِ   وَ  مَوَ ا قِعَ   الْقَطْرِ   يَفِرُّ   بِدِينِهِ   مِنَ   الْفِتَنِ(

Dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ( "Akan terjadi (suatu zaman) harta seorang muslim yang paling baik adalah kambing yang digembalakannya di puncak gunung dan tempat-tempat terpencil, dia pergi menghindar dengan membawa agamanya disebabkan takut terkena fitnah").

صحيح البخاري - (ج 10 / ص 11/ح 2673) : حَدَّ ثَنَا  يَحْيَى  بْنُ   يُوسُفَ  أَخْبَرَ نَا  أَ بُو  بَكْرٍ  يَعْنِي  ابْنَ  عَيَّاشٍ  عَنْ   أَبِي  حَصِينٍ  عَنْ   أَبِي  صَالِحٍ  عَنْ أَبِي  هُرَ يْرَ ةَ  رَضِيَ  اللَّهُ  عَنْهُ  عَنْ  النَّبِيِّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ  سَلَّمَ  قَالَ  ) تَعِسَ  عَبْدُ  الدِّينَارِ  وَ  الدِّرْهَمِ  وَ  الْقَطِيفَةِ  وَ  الْخَمِيصَةِ  إِنْ  أُعْطِيَ رَضِيَ  وَ  إِنْ   لَمْ   يُعْطَ   لَمْ  يَرْضَ(

Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ("Binasalah hamba dinar, dirham, kain tebal dan sutra. Jika diberi maka ia ridha jika tidak diberi maka ia tidak ridha").

صحيح البخاري - (ج 5 / ص 270/ح 1351) و صحيح مسلم - (ج 5 / ص 182/ح 1678) و مسند أحمد - (ج 16 / ص 250/ح 7709) و المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 20 / ص 90/ح 8829) و صحيح ابن حبان - (ج 14 / ص 160/ح 3398)  : حَدَّ ثَنَا  إِسْمَاعِيلُ  قَالَ  حَدَّ ثَنِي  أَخِي  عَنْ  سُلَيْمَانَ  عَنْ  مُعَاوِيَةَ  بْنِ  أَبِي  مُزَرِّدٍ  عَنْ أَبِي  الْحُبَابِ  عَنْ  أَبِي  هُرَ يْرَ ةَ  رَضِيَ  اللَّهُ  عَنْهُ  أَنَّ  النَّبِيَّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ  سَلَّمَ  قَالَ )  مَا  مِنْ   يَوْمٍ   يُصْبِحُ  الْعِبَادُ  فِيهِ  إِلاَّ   مَلَكَانِ   يَنْزِلاَنِ  فَيَقُولُ  أَحَدُهُمَا  اللَّهُمَّ  أَعْطِ  مُنْفِقًا  خَلَفًا  وَ  يَقُولُ  اْلآخَرُ   اللَّهُمَّ   أَعْطِ  مُمْسِكًا  تَلَفًا(

Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: ("Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) ").


[1]  Faiz Abdurrahman Al Fauzan, Menjadi Jutawan Dunia Akhirat, roemah buku ,  cetakan 1, Desember 2007, Solo.
[2]   Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al-‘Azhiim, I/246
[3]     Kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.
[4]     Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al-‘Azhiim, 4/452
[5]     Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al-‘Azhiim, 2/368
[6]     Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al-‘Azhiim, 3/218
[7]     Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al-‘Azhiim, 3/107

Tidak ada komentar:

Posting Komentar