Al Qur'an

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاَ ةَ وَ أْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَ انْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ اصْبِرْ عَلَى مَا أَصَا بَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأُمُور [لقمان/17]

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Lukmaan (31) : 71

SILAHKAN DISEBARKAN

SILAHKAN DIPERBANYAK / DISEBARKAN DENGAN COPY PASTE ASAL SEBUTKAN SUMBERNYA, TERIMA KASIH

Minggu, 07 Agustus 2011

Adab Bergaul Sesama Saudara Muslim (Bagian 2)



2.     Mencintai Saudaranya Karena Allah I

Kedudukan persaudaraan yang paling agung adalah ketika ia diniatkan karena Allah I dan untuk Allah I, tidak untuk mendapatkan kedudukan atau mendapatkan manfaat, baik yang segera didapat atau yang akan datang, tidak juga untuk materi atau selainnya. Barangsiapa yang kecintaannya kepada temannya karena Allah I dan persaudaraannya karena Allah I, sungguh telah mencapai puncak tujuan, dan hendaklah seseorang berhati-hati jangan sampai dalam kecintaannya itu terselip kepentingan-kepentingan duniawi yang akan mengotori dan menyebabkan rusaknya persaudaraan. Dan barangsiapa yang kecintaannya karena Allah I maka hendaklah ia bergembira dengan janji Allah I dan keselamatan dari kedahsyatan hari dimana seluruh makhluk dikumpulkan pada hari kiamat. Dan ia dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang dinaungi dibawah naungan 'Arsy Rabb Yang Maha Perkasa. Lihat hadits dibawah ini:

صحيح مسلم - (ج 12 / ص 4334655) و مسند أحمد - (ج 17 / ص 1438101) و سنن الدارمي - (ج 8 / ص 4462813) و صحيح ابن حبان - (ج 3 / ص 143575) : حَدَّ ثَنَا  قُتَيْبَةُ  بْنُ  سَعِيدٍ  عَنْ  مَالِكِ  بْنِ  أَ نَسٍ  فِيمَا  قُرِئَ  عَلَيْهِ  عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ  بْنِ  عَبْدِ  الرَّحْمَنِ  بْنِ  مَعْمَرٍ  عَنْ   أَبِي  الْحُبَابِ سَعِيدِ  بْنِ  يَسَارٍ  عَنْ  أَبِي  هُرَ يْرَ ةَ  قَالَ  قَالَ  رَسُولُ  اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ )  إِنَّ  اللَّهَ  يَقُولُ  يَوْ مَ   الْقِيَامَةِ  أَ يْنَ  الْمُتَحَا بُّونَ  بِجَلاَ لِي  الْيَوْمَ  أُظِلُّـهُمْ  فِي  ظِلِّي  يَوْمَ  لاَ  ظِلَّ  إِلاَّ  ظِلِّي(

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dari Malik bin Anas dari apa yang telah dibacakan kepadanya dari 'Abdullah bin 'Abdur Rahman bin Ma'mar dari Abu Al Hubab Sa'id bin Yasar dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ("Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman pada hari kiamat kelak: "Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini kunaungi mereka, di mana tidak ada naungan pada hari ini selain naungan-Ku.")

مسند أحمد - (ج 45 / ص 14/ح 21021) و موطأ مالك - (ج 6 / ص 24/ح 1503) :  حَدَّ ثَنَا  رَوْحٌ   حَدَّ ثَنَا  مَالِكٌ  وَ إِسْحَاقُ   يَعْنِي   ابْنَ  عِيسَى  أَخْبَرَ  نِي   مَالِكٌ  عَنْ   أَبِي  حَازِ مِ   بْنِ  دِينَارٍ  عَنْ   أَبِي   إِدْرِيسَ   الْخَوْلاَ نِيِّ   قَالَ   دَخَلْتُ   مَسْجِدَ  دِمَشْقِ  الشَّامِ   فَإِذَ ا  أَ نَا  بِفَتًى  بَرَّاقِ  الثَّنَا يَا  وَ إِذَ ا  النَّاسُ  حَوْلَهُ  إِذَ ا  اخْتَلَفُوا  فِي  شَيْءٍ  أَسْنَدُوهُ   إِلَيْهِ  وَصَدَرُوا  عَنْ  رَ أْيِهِ فَسَأَ لْتُ  عَنْهُ  فَقِيلَ  هَذَ ا  مُعَاذُ  بْنُ  جَبَلٍ  فَلَمَّا   كَانَ  الْغَدُ  هَجَّرْتُ   فَوَجَدْتُ   قَدْ  سَبَقَنِي   بِالْهَجِيرِ  وَ  قَالَ   إِسْحَاقُ بِا لتَّهْجِيرِ  وَ  وَجَدْ تُهُ   يُصَلِّي  فَانْتَظَرْ تُهُ  حَتَّى  إِذَ ا  قَضَى  صَلاَ  تَهُ  جِئــْـتُهُ  مِنْ  قِبَلِ  وَجْهِهِ  فَسَلَّمْتُ  عَلَيْهِ  فَقُلْتُ  لَهُ وَ  اللَّهِ  إِ نِّي َلأُ حِبُّكَ   لِلَّهِ  عَزَّ  وَ جَلَّ  فَقَالَ  أَ اللَّهِ  فَقُلْتُ  أَ اللَّهِ  فَقَالَ  أَ اللَّهِ  فَقُلْتُ  أَ اللَّهِ  فَأَخَذَ  بِحُبْوَ  ةِ  رِدَ ائِي فَجَبَذَ نِي  إِلَيْهِ  وَ  قَالَ  أَ بْشِرْ  فَإِ نِّي  سَمِعْتُ  رَسُو لَ  اللَّهِ   صَلَّى   اللَّهُ   عَلَيْهِ  وَ  سَلَّمَ    يَقُولُ   قَالَ  ) اللَّهُ   عَزَّ   وَ  جَلَّ  وَ جَبَتْ   مَحَبَّتِي   لِلْمُتَحَابِّينَ   فِيَّ   وَ  الْمُتَجَالِسِينَ  فِيَّ   وَ   الْمُتَزَ اوِرِينَ   فِيَّ  وَ   الْمُتَبَاذِ  لِينَ   فِيَّ (

Telah bercerita kepada kami Rouh telah bercerita kepada kami Malik. Dan Ishak bin 'Isa (juga menyebutkan) Telah memberitakan kepadaku Malik dari Abu Hazim bin Dinar dari Abu Idris Al Khoulani, ia berkata; Saya memasuki masjid Damaskus, Syam, tiba-tiba saya berada di dekat seorang pemuda yang sangat putih giginya, orang-orang berada disekitarnya. Bila mereka berbeda pendapat tentang sesuatu, mereka menyandarkannya pada pemuda itu dan meminta pendapatnya. Saya bertanya siapa pemuda itu, lalu ada yang menjawab; Dia adalah Mu'adz bin Jabal. Dikeesokan harinya saya pergi bergegas tapi ternyata pemuda itu telah mendahuluiku. Saya melihatnya shalat lalu saya menunggunya hingga usai shalat. Seusai shalat saya mendatanginya di hadapannya. Saya mengucapkan salam kemudian saya berkata; Demi Allah, aku mencintaimu karena Allah Azza wa Jalla. Ia berkata; Allah.  Saya berkata; Allah. Ia berkata; Allah. Saya berkata; Allah. Kemudian ia menarik ujung ujung selendangku dan menarikku ke arahnya, ia berkata; Bergembiralah karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; ("Allah Subhanahuwata`ala berfirman, 'Wajiblah cintaKu bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling berteman karena Aku, orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku'.)

صحيح مسلم - (ج 12 / ص 434/ح 4656) و مسند أحمد - (ج 20 / ص 122/ح 9579) :  حَدَّ ثَنِي  عَبْدُ  اْلأَ عْلَى  بْنُ  حَمَّادٍ  حَدَّ ثَنَا  حَمَّادُ بْنُ  سَلَمَةَ  عَنْ  ثَابِتٍ  عَنْ  أَبِي  رَ افِعٍ  عَنْ  أَبِي  هُرَ يْرَ ةَ  عَنِ  النَّبِيِّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ ) أَنَّ  رَجُلاً  زَ ارَ  أَخًا لَهُ فِي  قَرْ يَةٍ  أُخْرَى  فَأَرْصَدَ  اللَّهُ  لَهُ  عَلَى  مَدْرَجَتِهِ  مَلَكًا  فَلَمَّا  أَ تَى  عَلَيْهِ  قَالَ   أَ يْنَ   تُرِيدُ  قَالَ   أُرِيدُ  أَخًا لِي  فِي هَذِهِ  الْقَرْ يَةِ  قَالَ  هَلْ  لَكَ  عَلَيْهِ  مِنْ   نِعْمَةٍ  تَرُ بُّهَا  قَالَ  لاَ   غَيْرَ  أَ نِّي  أَحْبَبْتُهُ  فِي  اللَّهِ  عَزَّ  وَ جَلَّ  قَالَ   فَإِ  نِّي  رَسُولُ   اللَّهِ  إِلَيْكَ   بِأَنَّ  اللَّهَ  قَدْ  أَحَبَّكَ   كَمَا  أَحْبَبْتَهُ  فِيهِ (

Telah menceritakan kepadaku 'Abdul A'laa bin Hammad; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ("Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di desa lain. Kemudian Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menemui orang tersebut. Ketika orang itu ditengah perjalanannya ke desa yang dituju, maka malaikat tersebut bertanya; 'Hendak pergi ke mana kamu? ' Orang itu menjawab; 'Saya akan menjenguk saudara saya yang berada di desa lain.' Malaikat itu terus bertanya kepadanya; 'Apakah kamu mempunyai satu perkara yang menguntungkan dengannya? ' Laki-laki itu menjawab; 'Tidak, saya hanya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla.' Akhirnya malaikat itu berkata; 'Sesungguhnya aku ini adalah malaikat utusan yang diutus untuk memberitahukan kepadamu bahwasanya Allah akan senantiasa mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah.')


Perlu untuk diingat :  Hendaklah orang yang mencintai saudaranya karena Allah I memberitahukan kepadanya tentang hal tersebut. Hal ini ditunjukkan dalam hadits berikut :

مسند أحمد - (ج 25 / ص 26/ح 11980) :  حَدَّ ثَنَا زَ يْدُ  بْنُ  الْحُبَابِ  حَدَّ ثَنَا  حُسَيْنُ  بْنُ  وَ اقِدٍ  حَدَّ ثَنِي  ثَابِتٌ  الْبُنَانِيُّ حَدَّ ثَنِي أَنَسُ  بْنُ  مَالِكٍ  قَالَ ) كُنْتُ  جَالِسًا  عِنْدَ  رَسُولِ  اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ    إِذْ  مَرَّ  رَجُلٌ   فَقَالَ  رَجُلٌ  مِنَ  الْقَوْمِ   يَا رَسُولَ  اللَّهِ  إِ نِّي  َ لأُحِبُّ  هَذَ ا  الرَّجُلَ   قَالَ   هَلْ   أَعْلَمْتَهُ   ذَ لِكَ   قَالَ   لاَ   فَقَالَ   قُمْ   فَأَعْلِمْهُ   قَالَ   فَقَامَ   إِلَيْهِ  فَقَالَ   يَا  هَذَ ا  وَ  اللَّهِ   إِ نِّي  َ لأُ حِبُّكَ  فِي  اللَّهِ  قَالَ  أَحَبَّكَ  الَّذِي  أَحْبَبْتَنِي  لَهُ (

Telah menceritakan kepada kami Zaid Ibnul Hubab berkata, telah menceritakan kepada kami Husain bin Waqid berkata, telah menceritakan kepadaku Tsabit Al Bunani berkata, telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik ia berkata ; ( Aku duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika ada seorang laki-laki yang melintas, lalu salah seorang dari para sahabat berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai laki-laki ini, " beliau bersabda: "Apa telah engkau sampaikan hal itu padanya?" ia menjawab, "Belum, " beliau bersabda: "Kalau begitu bangun dan sampaikanlah kepadanya." ia pun berkata; "Wahai saudaraku, sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah, " lalu ia ganti menjawab; "Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.")

مسند أحمد - (ج 44 / ص 3/ح 20537) :  حَدَّ ثَنَا  حَسَنٌ  حَدَّ ثَنَا  ابْنُ  لَهِيعَةَ  حَدَّ ثَنَا  يَزِيدُ  بْنُ  أَبِي  حَبِيبٍ  أَنَّ   أَ بَا  سَالِمٍ   الْجَيْشَانِيَّ   أَ تَى   أَ بَا  أُمَيَّةَ  فِي  مَنْزِلِهِ  فَقَالَ  إِ نِّي  سَمِعْتُ  أَ بَا  ذَرٍّ   يَقُولُ   إِ نَّهُ  سَمِعَ   رَسُولَ   اللَّهِ   صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ   وَ  سَلَّمَ   يَقُولُ )  إِذَ ا   أَحَبَّ   أَحَدُ كُمْ  صَاحِبَهُ  فَـلْيَأْتِهِ  فِي  مَنْزِلِهِ  فَـلْيُخْبِرْ هُ   أَ نَّهُ   يُحِبُّهُ   لِلَّهِ  عَزَّ  وَ  جَلَّ  وَ  قَدْ  أَحْبَبْتُكَ  فَجِئْتُكَ  فِي  مَنْزِلِكَ(

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu Habib bahwa Abu Salim Al Jaisyani mendatangi Abu Umayah dari rumahnya, ia berkata, Aku mendengar Abu Dzar berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam bersabda: ("Apabila salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka hendaklah ia datang ke rumahnya dan kabarkan kepadanya bahwa ia mencintainya karena Allah Azza Wa Jalla, 'aku mencintaimu maka aku datang ke rumahmu'.")

صحيح مسلم - (ج 1 / ص 158/ح 64) : حَدَّ ثَنَا  مُحَمَّدُ  بْنُ  الْمُثَنَّى  وَ  ابْنُ  بَشَّارٍ قَالاَ  حَدَّ ثَنَا  مُحَمَّدُ  بْنُ  جَعْفَرٍ  حَدَّ ثَنَا شُعْبَةُ  قَالَ  سَمِعْتُ  قَتَادَ ةَ   يُحَدِّثُ  عَنْ    أَ نَسِ  بْنِ  مَالِكٍ  عَنِ  النَّبِيِّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  قَالَ)  لاَ   يُؤْ مِنُ  أَحَدُ كُمْ  حَتَّى  يُحِبَّ   ِلأَخِيهِ  أَوْ  قَالَ   لِجَارِ  هِ  مَا   يُحِبُّ   لِنَفْسِهِ(

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata, aku mendengar Qatadah menceritakan dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: ("Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga dia mencintai untuk saudaranya, atau dia mengatakan, 'untuk tetangganya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya sendiri.")

سنن الترمذي - (ج 8 / ص 403/ح 2312) : حَدَّ ثَنَا  أَحْمَدُ   بْنُ  مَنِيعٍ  حَدَّ ثَنَا   كَثِيرُ  بْنُ   هِشَامٍ  حَدَّ ثَنَا  جَعْفَرُ  بْنُ  بُرْقَانَ   حَدَّ ثَنَا  حَبِيبُ  بْنُ  أَبِي  مَرْزُوقٍ  عَنْ  عَطَاءِ  بْنِ   أَبِي  رَ بَاحٍ   عَنْ  أَبِي  مُسْلِمٍ  الْخَوْلاَ  نِيِّ  حَدَّ ثَنِي  مُعَاذُ  بْنُ  جَبَلٍ  قَالَ سَمِعْتُ  رَسُولَ  اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ   يَقُولُ  قَالَ ) اللَّهُ  عَزَّ  وَ جَلَّ  الْمُتَحَا بُّو نَ   فِي  جَلاَ  لِي  لَهُمْ  مَنَابِرُ  مِنْ   نُورٍ  يَغْبِطُهُمْ   النَّبِيُّونَ  وَ  الشُّهَدَ اءُ( 

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Burqan telah menceritakan kepada kami Habib bin Abu Marzuq dari 'Atho` bin Abu Rabah dari Abu Muslim Al Khaulani telah menceritakan kepadaku Mu'adz bin Jabal berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: ("Allah 'azza wajalla berfirman : Orang-orang yang saling mencintai karena keluhuranKu, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat para nabi dan syuhada` iri.")

صحيح مسلم - (ج 1 / ص 180/ح 81) : حَدَّ ثَنَا  أَ بُو  بَكْرِ  بْنُ  أَبِي  شَيْبَةَ  حَدَّ ثَنَا  أَ بُو  مُعَاوِ يَةَ  وَ وَ كِيعٌ  عَنْ اْلأَعْمَشِ  عَنْ  أَبِي  صَالِحٍ  عَنْ  أَبِي  هُرَ يْرَ ةَ   قَالَ  قَالَ  رَسُولُ   اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ ) لاَ   تَدْخُلُونَ  الْجَنَّةَ   حَتَّى  تُؤْ مِنُوا  وَ  لاَ   تُؤْ مِنُوا  حَتَّى تَحَابُّوا  أَوَ لاَ   أَدُ لُّكُمْ  عَلَى  شَيْ ءٍ   إِذَ ا  فَعَلْتُمُوهُ  تَحَا بَبْتُمْ  أَفْشُوا  السَّلاَ مَ  بَيْنَكُمْ(

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' dari al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ("Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu, apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi. Sebarkanlah salam di antara kalian." )

Jumat, 05 Agustus 2011

Adab Bergaul Sesama Saudara Muslim (Bagian 1)



اْلأَخِلاَّءُ  يَوْمَئِذٍ  بَعْضُهُمْ   لِبَعْضٍ  عَدُوٌّ  إِلاَّ  الْمُتَّقِينَ  [الزخرف/67]
Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.


Tafsirnya :
(اْلأَخِلاَّءُ) Al-akhillā-u (sahabat-sahabat karib) dalam kemaksiatan.
(يَوْمَئِذٍ) Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat, seperti ‘Uqbah bin Abi Mu‘ith dan Ubay bin Khalaf.

(بَعْضُهُمْ   لِبَعْضٍ  عَدُوٌّ  إِلاَّ  الْمُتَّقِينَ) Ba‘dluhum li ba‘dlin ‘aduwwun illal muttaqīn (sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa), yakni orang-orang yang menjauhi kekafiran, kemusyrikan, dan perbuatan-perbuatan buruk seperti Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan teman-teman mereka. Keadaan mereka tidak seperti (‘Uqbah bin Abi Mu‘ith dan Ubay bin Khalaf).


Maknanya :
Allah I memerintahkan kepada kita hendaknya pandai-pandai memilih teman bergaul dalam kehidupan di dunia dimana hidup tak terulang dan hanya sekali, karena pengaruh baik dan buruk tergantung dari teman-teman dan sahabatnya, bahkan tidak jarang kita terbawa dan terpengaruh oleh kebiasaan baik maupun  kebiasaan buruk mereka. Memilih teman yang baik bisa menghasilkan syurga tetapi  bergaul dengan yang buruk menyeret kita ke Neraka. Lihat sabda Rasulullah r :
سنن أبي داود - (ج 12 / ص 459/ح 4193) و سنن الترمذي - (ج 8 / ص 383/ح 2300) و مسند أحمد - (ج 16 / ص 226/ح 7685) :حَدَّ ثَنَا  ابْنُ  بَشَّارٍ حَدَّ ثَنَا  أَ بُو  عَامِرٍ  وَ  أَ بُو  دَ اوُدَ  قَالاَ  حَدَّ ثَنَا  زُهَيْرُ   بْنُ   مُحَمَّدٍ  قَالَ  حَدَّ  ثَنِي   مُوسَى   بْنُ   وَرْدَ انَ  عَنْ   أَبِي   هُرَ  يْرَ ةَ    أَنَّ   النَّبِيَّ   صَلَّى   اللَّهُ   عَلَيْهِ   وَ  سَلَّمَ   قَالَ ) الرَّجُلُ  عَلَى  دِينِ  خَلِيلِهِ  فَـلْيَنْظُرْ  أَحَدُ كُمْ  مَنْ  يُخَالِلُ(
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Amir dan Abu Dawud keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad ia berkata; telah menceritakan kepadaku Musa bin Wardan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ("Seseorang itu (sangat) tergantung dengan agama teman gaulnya, maka hendaklah seseorang (diantaramu) melihat siapa yang menjadi teman gaulnya.")

Dari pembukaan di atas maka adab atau etika bergaul yang benar-benar harus kita perhatikan adalah sebagai berikut :

1. Memilih teman bergaul dan bersahabat harus dengan orang yang baik akhlaknya

Hadits dalam pembukaan diatas : ("Seseorang itu bergantung dengan agama teman gaulnya, maka hendaklah seseorang (diantaramu) melihat siapa yang menjadi teman gaulnya."), hal ini mempertegas pernyataan Rasulullah r, bahwa kita harus pandai memilih dan memilah teman bergaul untuk kepentingan dunia dan akhirat kita, terkadang adat-istiadat, budaya dan prilaku seseorang itu saling mempengaruhi.  Abu Said Al Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah r bersabda :

سنن أبي داود - (ج 12 / ص 458/ح 4192) و سنن الترمذي - (ج 8 / ص 412/ح 231) و مسند أحمد - (ج 22 / ص 454/ح 10909) و المستدرك على الصحيحين للحاكم - (ج 16 / ص 499/ح 7273) و سنن الدارمي - (ج 6 / ص 246/ح 2109) و مسند أبي يعلى الموصلي - (ج 3 / ص 325/ح 1281) و صحيح ابن حبان - (ج 3 / ص 103/ح 555)  : حَدَّ ثَنَا  عَمْرُو  بْنُ  عَوْنٍ  أَخْبَرَ نَا  ابْنُ  الْمُبَارَ كِ  عَنْ  حَيْوَ ةَ   بْنِ  شُرَ يْحٍ  عَنْ  سَالِمِ  بْنِ  غَيْلاَ نَ  عَنْ  الْوَ لِيدِ  بْنِ  قَيْسٍ  عَنْ  أَبِي  سَعِيدٍ  أَوْ  عَنْ  أَبِي  الْهَيْثَمِ  عَنْ  أَبِي  سَعِيدٍ  عَنْ  النَّبِيِّ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  قَالَ ) لاَ  تُصَاحِبْ   إِلاَّ   مُؤْ مِنًا  وَ  لاَ   يَأْ  كُلْ  طَعَامَكَ  إِلاَّ   تَقِيٌّ (
Telah menceritakan kepada kami Amru bin Aun berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnul Mubarak dari Haiwah bin Syuraih dari Salim bin Ghailan dari Al Walid bin Qais dari Abu Sa'id atau dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: ("Janganlah kalian berkawan kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan sampai memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.")

Larangan pertemanan ini mencakup larangan bersahabat dengan pelaku dosa besar dan orang yang suka berbuat dosa, karena mereka melakukan apa yang Allah I haramkan. Kepada Allah I saja dia berani maksiat dan melawan apalagi kepada makhluk. Kepada Allah I saja yang memberikan segala kebaikan dan kenikmatan dia ingkar apalagi kepada manusia, Kepada Allah I saja tidak amanah apalagi kepada teman-temannya. Berteman dengan mereka akan mendatangkan kemudharatan pada agama kita. Terlebih lagi larangan bersahabat dengan orang-orang kafir dan munafik, maka larangan ini lebih diutamakan. Kita bergaul dengan mereka dalam rangka amar ma’ruf dan nahi munkar itu hal yang diperbolehkan, dan amar ma’ruf serta nahi munkar kita jika mendatangkan kemaslahatan maka lanjutkan, akan tetapi jika tak mendatangkan perubahan apapun pada mereka, meninggalkannya  adalah lebih lebih baik lagi.

Adapun sabda Rasulullah r : (لاَ   يَأْ  كُلْ  طَعَامَكَ  إِلاَّ  تَقِيٌّ) (" jangan sampai memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa."). Al Khatabi berkata, “Larangan ini berlaku pada makanan undangan, bukan makanan kebutuhan, karena Allah I berfirman :
وَ  يُطْعِمُونَ   الطَّعَامَ  عَلَى  حُبِّهِ  مِسْكِينًا  وَ  يَتِيمًا  وَ  أَسِيرًا  [الإنسان/8]
Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan

Dari firman tersebut membantu manusia yang tertawan oleh kita dari segi makanan pokoknya dan kebutuhan hidup sehari-harinya adalah wajib, tetangga non muslim yang kekurangan bahan pokok demi kemanusiaan harus kita bantu, bahkan harus menunjukkan bahwa kita ini berdakwah ikhlas kepada sesama makhluk dan mencontoh Rasulullah r sebagai Rahmatan lil ‘alamiin.

Adapun hadits yang lain mempertegas lagi  adalah sebagai berikut :
صحيح البخاري - (ج 7 / ص 287/ح 1959) و صحيح مسلم - (ج 13 / ص 73/ح 4762) : حَدَّ ثَنِي  مُوسَى  بْنُ  إِسْمَاعِيلَ  حَدَّ ثَنَا  عَبْدُ الْوَاحِدِ  حَدَّ ثَنَا  أَ بُو  بُرْدَ ةَ  بْنُ  عَبْدِ  اللَّهِ  قَالَ  سَمِعْتُ  أَ بَا  بُرْدَ ةَ  بْنَ  أَبِي  مُوسَى  عَنْ  أَبِيهِ  رَضِيَ  اللَّهُ  عَنْهُ  قَالَ  قَالَ رَسُولُ  اللَّهِ  صَلَّى  اللَّهُ  عَلَيْهِ  وَ سَلَّمَ  )مَثَلُ  الْجَلِيسِ  الصَّالِحِ  وَ  الْجَلِيسِ  السَّوْ ءِ  كَمَثَلِ  صَاحِبِ  الْمِسْكِ  وَ  كِيرِ  الْحَدَّادِ  لاَ   يَعْدَ مُكَ   مِنْ  صَاحِبِ  الْمِسْكِ   إِمَّا  تَشْتَرِيهِ   أَوْ   تَجِدُ رِيحَهُ  وَ   كِيرُ   الْحَدَّاد ِ  يُحْرِقُ   بَدَ نَكَ   أَوْ   ثَوْ بَكَ   أَوْ   تَجِدُ  مِنْهُ  رِيحًا  خَبِيثَةً  (
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: ("Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya.")

Jelaslah kehati-hatian kita memilih sebuah komunitas pergaulan sangat diperlukan bukan hanya mengatakan saya fleksibel bergaul dengan siapa saja, tetapi berlaku cerdaslah untuk kepentingan diri kita sendiri agar dunia dan akhirat berhasil. JIKA INGIN SUKSES BERGAULLAH DENGAN ORANG-ORANG SUKSES, JIKA INGIN SHOLEH BERGAULLAH DENGAN ORANG-ORANG SHALIH. DAN KITA TAK MELARANG ORANG YANG BURUK MASUK KOMUNITAS KITA..SEMOGA MEREKA TERPENGARUH DENGAN KEBAIKAN YANG ADA DALAM KOMUNITAS TERSEBUT.

Bahkan faktor memilih pasanganpun sangat tergantung dari teman yang yang menjadi teman pergaulannya, karena biasanya sifat mereka tak jauh berbeda dengan teman-temannya.
) إِ يَا كُمْ  وَ خَضْرَ اءَ  الدِّ مَنِ،  قِيْلَ  :  يا رسو ل  الله  وَ  مَا خَضْرَ اءُ  الدِّ مَنِ؟   قَالَ  : اَ لْمَرْ أَ ةُ    اْلحَسَنَاءُ  فيِ  اْلمَنْبَتِ الـسُوْءِ( (رواه   الد ار  قطني)
"Jauhilah olehmu si cantik yang beracun!". Lalu seorang sahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, siapakah si cantik yang beracun itu?". Rasulullah r menjawab : "Perempuan yang cantik, tetapi hidup dan bergaul dengan temannya dalam lingkungan yang jahat ".

Dari hadits tersebut bisa kita simpulkan bahwa lingkungan yang tidak baik, besar kemungkinan dipenuhi oleh kebiasaan, tradisi, dan perilaku yang bertentangan dengan syariat Islam. Lingkungan masyarakat yang mempunyai tradisi berjudi, membuka praktik pelacuran, gemar minuman keras, dan melakukan maksiat-maksiat lainnya, merupakan contoh lingkungan yang tidak baik.

Lingkungan seperti ini jelas merugikan pembinaan akhlak dan keagamaan masyarakatnya, baik perempuan maupun laki-laki, karena apabila tidak mengenal syariat, dia biasa bergaul bebas tanpa mengenal batasan yang sesuai aturan Allah I, menurut mereka asal tidak keluar dari jalur etika dan norma kemasyarakatan sudah cukup. Jelas hal ini lambat laun akan menimbulkan konflik apabila dibina dengan syariat padahal dia kurang suka, dengan alasan dikekanglah, kakulah, dan banyak alasan lainnya.

Tak ada seorangpun yang ingin mencari pasangan hidup bertujuan untuk membina konflik, oleh karena itu pikirkan dengan matang-matang apabila memilih istri/istri yang tidak terbina dengan syariat Islam dan biasa hidup bebas tanpa batasan syariat, walaupun cantik/tampan tapi besar bahayanya dikemudian hari. Ataupun sebaliknya kita mau menikahi karena menyenangi parasnya, hartanya, kekayaannya dan tidak berdasarkan ahlakhnya maka akibatnya seperti yasng disabdakan Rasulullah r dalam hadits berikut :
) لاَ   تَــزَ وَّ جُــوْا  النِّسَآ ءُ  لِحُــسِنِهِنَّ،  فـَـعَسىَ  حُسْنُــهُــنَّ  أَنْ   يُرْدِ يْهِنَّ، و لاَ   تَــزَ وَّ جُــوْا  هُنَّ    ِلاَ مْوَ ا لِـهِنَّ،   فـَـعَسىَ  أَمْوَ ا لِـهِنَّ   أَنْ  تُطْغِيَهُنَّ،  وَ  لَكِنْ   تَــزَ وَّ جُــوْا  هُنَّ   عَلىَ   الدِّ يْنِ  وَ  لاَ  مَةٌ   خَرْمَاءُ   ذَ اتُ  دِ يْنٍ  أَفْضَلُ ( (رواه  عبد  بن  حميد)
"Jangan kau nikahi perempuan karena kecantikannya, barangkali kecantikannya itu akan membinasakannya (membuat dirimu menderita dan merana). Dan jangan kau nikahi perempuan karena hartanya. Barangkali kekayaannya itu akan menyebabkan dia durhaka, tetapi menikahlah kamu dengan perempuan karena agamanya. Sesungguhnya perempuan tak berhidung lagi budek, tetapi faham agamanya adalah lebih baik baginya (daripada perempuan yang dinikahi karena tujuan keduniawian)".

Rasulullah r memberitahukan, bahwa orang yang menikah menyalahi tujuan dari pernikahannya yaitu untuk membentuk sebuah rumah tangga dan mengurus keperluan-keperluannya, maka ia berarti melakukan hal yang berlawanan dengan maksud pernikahan itu, lalu sabdanya :
)مَنْ  تَزَ وَّ جُ   اِمْرَ أَ ةً   لِمَالِهَا لَمْ   يَزِدْهُ  اللهُ  إِلاَّ  فَقْرًا، و  مَنْ  تَزَ وَّ جُ   اِمْرَ أَ ةً  لِحَسَبَهَا  لَمْ   يَزِدْهُ  إِلاَّ  دَ نَاءَ ةً،  و مَنْ  تَزَ وَّ جُ   اِمْرَ أَ ةً  لِيَغُضَّ  بِهَا  بَصَرَهُ، وَ  يُحْصِنَ  فَرْجَهُ، أَوْ  يَصِلَ  رَحِمَهُ،  بارك  اللهُ  لَهُ  فِيهَا و بارك  لهَا فِيهِ(.رواه ابن حبان
"Barang siapa yang menikah dengan perempuan karena hartanya, maka Allah malah akan menjadikannya fakir. Barang siapa menikah dengan perempuan karena keturunannya, maka Allah malah akan menghinakannya. Tetapi barangsiapa menikah dengan perempuan supaya lebih menundukkan pandangannya, membentengi nafsunya atau untuk menyambung tali persaudaraan, maka Allah pasti memberikan keberkahan kepadanya dengan perempuan itu dan kepada perempuan itu diberikan kebarokahan pula".